Powered By Blogger

Kamis, 29 April 2010

HUTAN JATI (JALAN MENUJU DESAKU)

Beberapa orang teman yang saya ajak berkunjung ke desa tempat tinggal saya saat ini, berucap ketika memasuki hutan seperti yang tertera pada gambar, "ha... melewati hutan?!" Ucapan itu menurut saya merupakan ungkapan rasa takutnya pada hutan. Mengingat hal itu kemudian saya mencoba menghubung-hubungkan, apakah salah satu faktor penyebab musnahnya hutan di muka Bumi ini lantaran takutnya manusia pada hutan? Pastinya bukan itu. Rusaknya hutan di muka Bumi ini akibat dari rakusnya manusia dalam memperkosa alam. Menghancurkan alam tempat tinggalnya sendiri demi meraup kesenangan sesaat yang memabukkan ketamakan dirinya. (bersambung)

Selasa, 27 April 2010

PEKATNYA AIR SUNGAI BRANTAS

Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas merupakan satu sungai terpanjang dan terpenting di Jawa Timur, di samping DAS tengah dan hilir Bengawan Solo. Induk sungai dari DAS ini, yakni sungai Brantas bermata air di jurang Kuali, Cangar, lereng selatan kompleks pegunungan vulkanis yang sudah tidak aktif lagi Anjasmoro--Welirang--Arjuna. Secara administratif, daerah tersebut berada di wilayah Kota mBatu. Dari tempat tersebut, sungai Brantas mengalir menuruni lereng ke arah tenggara, menuju dataran tinggi Malang. Sesampainya di Kota Malang, sungai ini berbelok ke arah barat daya sambil mengikis batuan beku yang masih kompak hingga memasuki Kepanjen, calon ibukota Kabupaten Malang. Sesudah itu sungai Brantas berbelok ke arah barat yang formasi batuannya berdampingan dengan batuan kapur. Kemudian setelah berada di DAS tengah dan hilir, sungai Brantas akan melalui daerah alluvial, hingga bermuara di selat Madura. Mengingat struktur geologi yang dilaluinya, maka sungai Brantas termasuk sungai komposit.

Bulan April biasanya menjadi titik awal musim kemarau yang ditandai dengan mulai berkurangnya curah hujan. Apa yang terjadi dengan bulan April 2010? Curah hujan makin meninggi dan berbanding terbalik ketika bulan Januari lalu. Curah hujan yang tinggi ini memicu terjadinya erosi/pengikisan di sepanjang DAS. Terlebih di daerah hulu sungai yang bertopografi curam dan kemudian diperparah dengan makin maraknya perambahan hutan untuk permukiman (termasuk villa) dan untuk lahan pertanian holtikultura. Daya dukung lahan yang terbatas melantarkan material hasil erosi terangkut oleh aliran sungai. Besarnya tingkat erosi dan besarnya material hasil erosi yang terangkut dapat dilihat dengan semakin coklat pekatnya air sungai Brantas. Hanya sayang, saya tak sempat mengukur jumlah material lepas hasil erosi sungai itu pada setiap satu kilogram airnya. Padahal sungai Brantas sebagai sungai induk pada DAS Brantas paling tidak dibangun/melalui dua bendungan di wilayah Kabupaten Malang. Bendungan itu adalah bendungan Sengguruh dan bendungan Karangkates. Kedua bendungan itu memiliki fungsi strategis. (bersambung)

Minggu, 25 April 2010

CUACA DAN IKLIM

Cuaca dan iklim merupakan kajian Geografi yang diberikan pada siswa kelas X semester 2 (dua) dengan alokasi waktu 6 x 45menit. Standar kompetensi: 3. Menganalisis unsur-unsur geosfer, Kompetensi Dasar: Menganalisis atmosfer dan dampaknya terhadap kehidupan di muka Bumi. Materi yang terpaksa harus diunduh ini saya peroleh ketika Diklat MGMP Geografi SMA Tingkat Jawa Timur Tahun 2006 di Malang menjelang peluncuran Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Penyusun dan pematerinya adalah Drs. M. Ainur Rafiq, M.A., widyaiswara dari P4TK (dulu P3G IPS dan PMP) Malang. Isinya sangat bagus dan ditulis dengan menggunakan Microsolf Office PowerPoint. Bila pembaca berminat, silahkan klik:

Download

Jumat, 23 April 2010

BAGAIMANA KABAR HARI BUMI?

Bumi adalah sebuah planet kecil dalam sistem Tata Surya kita. Sampai saat ini hanya Bumi yang diyakini memiliki penghuni.

Data-data Bumi:
Umur Bumi: 4.500.000.000tahun.
Luas Bumi: 510.541.000km².
Luas seluruh daratan: 149.000.000km².
Luas seluruh perairan laut: 361.000.000
km².
Keliling Bumi: 40.000,424
km.
Diameter Bumi: 12.756km.
Jari-jari Bumi pada khatulistiwa (sumbu panjang): 6.378,388km.
Jari-jari Bumi pada kutub (sumbu pendek): 6.356,909km.
Isi Bumi: 1.083.230.000
km³.
Berat Bumi 5.476.000.000.000.000.000.000ton
Rotasi Bumi dalam satu putaran: 23jam 56menit 4detik (dibulatkan menjadi 24jam).
Revolusi Bumi dalam satu putaran: 365hari 6jam 9menit 10detik (dibulatkan menjadi 365hari).
Bagian-bagian Bumi yang langsung berkaitan dengan kehidupan:
a. Litosfer (Kerak Bumi):
- Ketebalan di daratan (kerak benua): 70km.
- Ketebalan rata-rata di dasar samudra (kerak dasar samudra): 8km.
Unsur-unsur utama pembentuk kerak Bumi bagian atas: silisium (Si) dan alumunium (Al).
Unsur-unsur utama pembentuk kerak Bumi bagian bawah: silisium (Si) & Magnesium (Mg).
Daratan tertinggi: Mount Everest (+8.888m).
Tempat terendah di daratan: permukaan Laut Mati (-417m).
Tempat terendah di dasar laut: Challenger deep di palung Mariana (-10.911m).
b. Pedosfer, merupakan lapisan tanah yang terdiri dari horison O, horison A, horison B,
horison C, dan batuan induk (horison D).
c. Hidrosfer, merupakan lapisan perairan yang meliputi perairan darat dan perairan laut.
Luasnya 71% dari seluruh permukaan Bumi.
d. Atmosfer (khususnya Troposfer), merupakan lapisan udara yang berhubungan dengan
peristiwa cuaca dan iklim. Tebalnya 19km di khatulistiwa dan 8km di kutub.
Gas-gas penyusun atmosfer adalah:
- Nitrogen (N2): 78,08%
- Oksigen (O2): 20,95%
- Argon (Ar): 0,93%
- Karbon dioksida (CO2): 0,035%
- Neon (Ne): 0,0018%
- Methan (CH4): 0,00017%
- Helium (He): 0,0005%
- Hidrogen (H2): 0,00005%
- Xenon (Xe): 0,000009%
- Ozon (O3): 0,000004%
Suhu terendah menurut http://id.wikipedia.org/wiki/Fakta_geografi_dunia -89,2°C berada
di Vostok, Antartika pada 21 Juli 1983. Sumber lain mengatakan di Verchoyansk, Siberia sebesar-72
°C.
Suhu tertinggi
menurut http://id.wikipedia.org/wiki/Fakta_geografi_dunia 48°C di Death
Valley
antara 6 Juli sampai 17 Agustus 1917. Sedang sumber lain menyebutkan 50
°C di gurun Najd,
Saudi Arabia.
Curah hujan tertinggi terdapat di Cherrapunji, Bangladesh rata-rata sebesar 1.270cm/tahun.
Curah hujan terendah terdapat di gurun Atacama, Chili sebesar 0,01cm/tahun. Beberapa tempat di gurun tersebut bahkan tidak pernah turun hujan selama 400tahun.
e. Biosfer, merupakan lapisan kehidupan untuk tumbuhan dan hewan.
f. Antroposfer, merupakan lapisan kehidupan manusia.
Penduduk Bumi menurut Retno Kinteki (17-5-2006) sebesar 6.590.386.212jiwa. Indonesia
menduduki urutan ke-4 dengan jumlah penduduknya sebanyak 248.486.212jiwa.

Penduduk yang sedemikian banyak itu menghantarkan eksploitasi besar-besaran terhadap Bumi. Terlebih ketika ditemukannya berbagai peralatan modern hasil dari pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi ternyata menimbulkan dampak negatif yang tidak sedikit. Berbagai tempat di permukaan Bumi terjadi penurunan kualitas lingkungan. Limbah industri, limbah kendaraan bermotor, limbah rumah tangga, limbah peternakan, pembabatan hutan secara membabi-buta, aktifitas pertambangan, dan eksploitasi lahan yang berlebihan untuk pertanian terjadi dimana-mana dan mengancam eksistensi Bumi dan penghuninya. Pengubahan bentang alam menjadi bentang budaya lainnya, misal pengembangan perkotaan dengan segala sarana dan prasarananya jika tidak terencana dengan baik juga mengancam Bumi dalam jurang kehancuran. Bumi sebagai kapal ruang angkasa harus diselamatkan dari rongrongan penumpangnya sendiri, manusia. Ya, manusia! Bukan oleh makhluk lain. Dalam ajaran Islam, Al Qur'an telah mengisyaratkan hal itu seperti yang tercantum dalam Suuratu 'Rruum (Surat Al Rruum) ayat 41: "Zhahara 'lfasaadu fi'lbarri wa 'lbahri bimaa kasabat aydi 'nnaasi liyudziiqahum ba'dha 'lladzii 'amiluu la'allahum yarji'uuna". Artinya: "Telah tampak kerusakan di daratan dan di laut disebabkan oleh perbuatan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar".

Setiawan Dirgantara menulis dalam blognya 'Fatamorgana' bahwa Hari Bumi dicanangkan oleh Gaylord Nelson, seorang senator yang juga seorang dosen Lingkungan Hidup pada suatu perguruan tinggi di Amerika Serikat pada awal tahun enampuluhan. Hari Bumi yg diperingati setiap tanggal 22 April secara internasional dirancang untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi manusia terhadap planet Bumi kita tercinta.

Hari Bumi tahun ini diperingati oleh sebagian penduduk di berbagai belahan dunia. Di Indonesia sendiri, Hari Bumi diperingati oleh berbagai pihak. Mulai dari lembaga pemerintahan, lembaga swadaya masyarakat, mahasiswa dan pelajar. Metro TV bekerjasama dengan Kementrian Negara Lingkungan Hidup menggelar acara 'Go Green', di samping juga melakukan liputan ke salah satu puncak pegunungan Jayawija, Papua yang bersalju dengan menggunakan helikopter. Pada liputan itu diinformasikan bahwa luas salju yang ada di puncak tersebut telah menyusut 10% dari luas semula, yakni 20km persegi. Kompas.com juga meliput pendakian ke puncak Nggapulu pegunungan Jayawijaya yang dilakukan oleh kelompok Pecinta Alam 'Wanadri' Bandung. Dari kedua liputan itu diketahui bahwa puncak yang dulu terkenal dengan sebutan 'salju abadi' itu telah menyusut drastis akibat adanya pemanasa global.

BMKG pada 22 April 2010 pukul 19.00WIB melalui situs jejaring sosial, Facebook menginformasikan tentang perkembangan cuaca ketika itu (lihat gambar teratas). Dari citra foto satelit yang dikirimkan oleh BMKG itu, disimpulkan bahwa wilayah Indonesia masih akan terus diguyur hujan walau secara teoritis seharusnya wilayah Indonesia, khususnya pulau Jawa dan kepulauan Nusa Tenggara sudah memasuki musim kemarau seiring bergesernya gerak semu tahunan Matahari ke belahan Bumi utara, setelah tepat tanggal 21 Maret lalu berada di atas khatulistiwa. Inilah penyimpangan musim. Ketika memasuki musim kemarau intensitas curah hujan masih tinggi, sedang ketika bulan Januari lalu dimana seharusnya terjadi intensitas curah hujan tertinggi, beberapa tempat di Indonesia tidak mengalami hal tersebut. Inilah rupanya dampak dari pemanasan global yang mempengaruhi perubahan iklim global. Curah hujan yang masih tinggi pada bulan April membuat gareng-pung (bhs Jawa, semacam serangga) menghentikan suara merdunya. Gareng-pung ini sering memperdengarkan suara dengan menggerakkan sayapnya sepanjang hari ketika musim peralihan antara musim penghujan ke musim kemarau (musim pancaroba, yang dalam bahasa Jawa disebut musim mareng).

Mengingat curah hujan yang tinggi, sebagian masyarakat diharapkan untuk waspada terhadap adanya banjir dan tanah longsor. Terlebih pada daerah tepian sungai, dataran rendah, dan daerah seperti nampak pada citra foto udara hitam putih di bawah ini.

Citra foto udara hitam putih ini memberikan bukti betapa hebatnya manusia mengeksploitasi Bumi. Permukaan Bumi yang berelief kasar ini telah ditelanjangi. Telah digunduli hutannya, hingga hanya sedikit yang tersisa. Topografi berbukit dengan kemiringan curam dan berlembah dalam telah disihir menjadi bentang budaya demi ambisi memperoleh keuntungan sesaat dan melupakan keselamatan diri dan anak cucunya di masa mendatang. Lahan-lahan yang sebelumnya bervegetasi penutup berupa hutan berganti menjadi lahan pertanian tanaman semusim dan permukiman penduduk. Bahkan di antaranya dibiarkan menjadi menjadi lahan kritis/tandus yang berbatu. Memang benar Bumi diciptakanNya untuk kesejahteraan manusia, makhluk yang paling sempurna. Namun bukan berarti kita terus semena-mena, bertindak semaunya dengan tidak lagi memperhatikan kelestarian lingkungan. Keseimbangan lingkungan harus tetap diutamakan. Tidak kita habiskan saat ini, tetapi kita wariskan kepada anak cucu kita. Tentunya kita tidak ingin mewariskan kerusakan dan kehancuran Bumi kepada mereka.

Konflik penggunaan lahan sering terjadi. Terlebih di daerah padat penduduk. Bukit berlereng terjal berbatu ini seharusnya tidak bisa diganggu gugat. Bukit seperti itu kelas kemampuan lahannya termasuk kelas VII. Lahan demikian itu harus dibiarkan berkembang secara alami. Artinya lahan pada bukit tersebut harus berfungsi sebagai hutan konservasi. Hutan ini berfungsi sebagai pengatur tata air, sehingga ketika musim kemarau tidak mengalir berlebihan, sedang pada musim kemarau tidak sampai kekurangan air. Hutan yang ada juga berfungsi klimatologis, yakni udara menjadi sejuk dan terbebas dari dari gas karbon dioksida karena gas tersebut diserap tumbuhan yang ada pada hutan tersebut. Namun apa yang terjadi? Petani yang miskin, lahan pertanian yang dimiliki terbatas atau bahkan tidak memilikinya, dan pendidikan yang rendah hingga mendorong mereka mengubah bukit tersebut menjadi lahan pertanian berteras. Meskipun lahan itu telah dikelola dengan metode penanggulangan erosi, yakni dengan penerapan metode teknik/mekanik--terasering, namun ancaman erosi dan tanah longsong masih tetap ada.

Awalnya pada peringatan Hari Bumi tahun 2010 ini, saya akan melibatkan diri pada kegiatan penghijauan bersama pengurus OSIS di lingkungan sekolah. Kegiatan tersebut merupakan program OSIS yang proposal pelaksanaan kegiatannya saya ikut menandatanganinya. Tetapi lantaran ada surat mendadak tentang pelaksanaan Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat Kabupaten Malang, saya terpaksa mengurungkan niat untuk turut mengambil bagian kegiatan penghijauan tersebut karena waktunya yang bersamaan. OSN menjadi lebih penting karena saya menjadi koordinator pelaksana OSN tingkat sekolah yang sekaligus sebagai pembina OSN bidang sain Kebumian. Di samping itu pada penyelenggaraan OSN tingkat Kabupaten Malang, saya ditunjuk sebagai pengawas yang sekaligus korektor bidang sain Kebumian.

Bidang sains yang diolimpiadekan adalah Astronomi, Biologi, Ekonomi, Fisika, Kebumian, Kimia, Komputer, dan Matematika. OSN tingkat Kabupaten Malang tahun 2010 ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Turen yang jaraknya lebih kurang 42km dari tempat tugas saya. Perjalanan sejauh itulah yang kemudian saya manfaatkan untuk mencari kabar Hari Bumi di sepanjang perjalanan. Direncanakan atau tidak yang jelas pelaksanaan OSN, khususnya pada bidang sain Kebumian juga sebagai ajang memperingati Hari Bumi Internasional. Melalui ajang itu siswa memperoleh bekal pengetahuan tentang Bumi sehingga mereka diharapkan lebih arif dalam menghadapi kehidupan yang lebih kompleks di muka Bumi tercinta ini. Nampak dalam gambar pelaksanaan OSN tingkat Kabupaten Malang Ruang 15 pada saat-saat hendak berakhir yang separonya adalah peserta dari bidang sain Kebumian. Sekolah kami mengirimkan lima siswa pada bidang sain Kebumian yang empat di antaranya nampak pada gambar. Empat siswa yang nampak pada gambar, dari depan ke belakang adalah Ayu Yuni Kharisma, Ernawati, Ayuh Pinanda, dan Musag Alfan Nugrahanto. Sedang Putri Amelia tidak nampak. Total siswa yang dikirim dalam OSN dari sekolah kami ada 39siswa. Siswa yang paling banyak dikirimkan dalam OSN ini adalah bidang sain Biologi dengan tujuh siswa.

Dalam perjalanan pergi dan pulang saya upayakan memperoleh kabar tentang peringatan Hari Bumi. Harapan saya dapat menemukan orang-orang beraktifitas dalam memperingati Hari Bumi. Mungkin menemukan orang-orang yang sedang melakukan penghijauan atau membersihkan sampah, atau aktifitas lain yang sejenis. Ternyata jangankan aktifitas yang terkait dengan peringatan Hari Bumi, menemukan spanduk atau baliho pun tidak. Apa saya yang tidak tahu ya kalau ada aktifitas yang saya maksud? Atau orang-orang di sepanjang jalan yang saya lalui tidak menyadarinya? Atau bahkan sudah tidak mau peduli lagi? Saya hanya mendapatkan beberapa jepretan kamera yang di antaranya tertera pada posting-an ini. Satu gambar yang terpampang ini adalah pemandangan hamparan tanaman padi yang mulai menguning pada lahan persawahan subur. Kelas kemampuan lahannya termasuk lahan kelas I yang dilatarbelakangi sebuah peneplain dari salah satu rangkaian pegunungan Kidul, yakni pegunungan kapur di selatan Jawa dihiasi awal kumulus bergumpal-gumpal. Tanah pada lahan ini kena pengaruh vulkanik yang berbatasan dengan tanah yang terbentuk dari batuan kapur. Letaknya berada di pinggir jalan raya Turen--Gondanglegi. Harapan saya semoga lahan ini bisa dipertahankan dan tidak beralih fungsi menjadi permukiman atau bangunan sejenis.

Sumber:
1. Diklat MGMP Geografi SMA Tingkat Jawa Timur. 2006. CD Penginderaan Jauh tentang
Foto Udara.
Malang: Tidak Diterbitkan.
2. Gunawan, Totok, dkk. 2007. Fakta dan Konsep Geografi. Jakarta: Inter Plus.
3. H.S., Mukailani, dkk. 1986. Geografi untuk SMA Klas III Semester V + VI. Madiun:--
4. Kinteki, Retno. 2006. Geografi Penduduk (Materi Presentasi pada Diklat MGMP Geografi
SMA Tingkat Propinsi Jawa Timur.
Malang: Tidak Diterbitkan.
5. Meurah, Cut, dkk. 2006. Geografi untuk SMA Kelas X. Ciracas, Jakarta: Phibeta.
6. Nianto Mulyo, Bambang & Suhandini, Purwadi. 2007. Kompetensi Dasar Geografi 1. Solo:
PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.
7. Rusli Yunus, M dan Warnadi. 2003. Suplemen Geografi untuk Peningkatan Imtaq Siswa SLTA. Jakarta: Bagian Proyek Peningkatan Wawasan Keagamaan Guru Jakarta, Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional.
8. http://amriawan.blogspot.com
9. http://id.wikipedia.org/wiki/Fakta_geografi_dunia
10. http://574nk.wordpress.com/sayangi-bumi/






Kamis, 22 April 2010

INDUSTRI GAMPING



Pengantar:
Isi dari posting-an ini adalah hasil karya siswa kelas XII.IPS1, yakni Yeni Dwi Asputri dan Windi Warsia L. berkaitan dengan pengamatan aktifitas penduduk di lingkungan sekitar. Juga William Pratama dan Edi Santotos. Aktifitas penduduk di sektor industri yang mereka tulis sangat berkaitan dengan batuan induk yang ada di daerah tersebut, yakni batuan kapur. Dalam tulisan tersebut, Yeni dan Windi menjelaskan bahwa batuan tersebut diolah melalui pembakaran yang selanjutnya dijadikan gamping. Gamping hasil olahan tersebut kemudian bila dicampur sedikit air akan menjadi semacam tepung gamping. Tepung gamping tersebut biasanya berfungsi sebagai perekat atau semacam semen yang dicampurkan dengan pasir dan kadang ditambah semen merah untuk pembangunan gedung. Bisa juga berfungsi sebagai cat tembok. Biasanya berwarna putih. Di samping itu, William Pratama dan Edi Santoso menjelaskan bahwa batu kapur tersebut pada industri batu kapur yang lain diolah menjadi tepung (meal) dan sebagai bahan bangunan dengan nama dagang dolosit. Meal tersebut kemudian dijadikan sebagai bahan baku pada industri genteng. Sedang dolosit itu sendiri gamping yang sebenarnya juga sudah diolah menjadi tepung. Hanya tepung (meal) yang diberi nama dagang dolosit itu biasanya untuk perekat atau semacam semen putih. Fungsinya sama persis dengan gamping. Uraian berikut merupakan tulisan mereka.


Data tentang industri gamping

Nama pemilik : Kasenu

Lokasi : Jln. Teuku Umar no.2 RT 05/RW 12 DusunTempur Desa/Kecamatan Pagak,

Kabupaten Malang Tahun berdiri : 1982

Luas lahan :16m x 16m

Jenis : Industri Sedang (klasifikasi industriberdasarkan jumlah tenaga kerja: 20—99orang).

Produksi : 21ton dalam sekali bakar pada satu jobong.


Industri gamping adalah industri yang membakar batu untuk dijadikan gamping yang dipakai sebagai perekat bahan bangunan. Industri ini merupakan usaha turun-temurun yang sampai sekarang masih tetap berdiri. Industri ini memilki dua tempat pembakaran gamping yang masing-masing menghasilkan 21ton gamping.


1. Bahan baku dan cara memperolehnya:

a. Batu Kapur

Batu kapur merupakan bahan utama gamping. Batu ini dibeli dari tukang gali/penambang batu kapur yang biasanya meggalinya dari gua. Untuk membakar gamping dalam sekali proses pembakaran diperlukan Sembilan truk batu kapur. Biasanya batu kapur yang diambil berasal dari Dusun Pondokkobong atau daerah Karangputih, tetangga desa. Untuk menghasilkan gamping yang baik, batu kapur yang dipilih pun harus yang baik dan mempunyai berat yang sesuai.


2. Bahan pendukung:

a. Kayu

Kayu diperlukan untuk membakar batu kapur. Dalam satu kali pembakaran, diperlukan delapan truk kayu yang dibeli dari penebang kayu.

b. Karet

Karet juga digunakan untuk membakar batu kapur. Dalam pembakaran batu kapur, karet hanya dipakai sebagai pelengkap saja. Biasanya karet banyak dipakai ketika musim hujan karena ketika musim hujan sulit untuk mendapatkan kayu. Selain itu karet harganya relatif lebih mahal jika dibandingkan dengan kayu. Perlu diketahui yang dimaksud karet ini adalah karet bekas atau karet limbah dari industri pengolahan karet.



3. Proses pembuatan gamping:

a. Sebelum batu dibakar, hal yang perlu dilaksanakan adalah membersihkan tempat untuk membakar gamping (berbentuk lubang besar) yang disebut jobong dari abu. Hal ini dilakukan agar batu yang akan dibakar nanti tidak hitam. Kegiatan ini dikerjakan oleh lima orang pekerja).

b. Setelah abu itu dibersihkan, batu kapur sebangyak sembilan truk itu kemudian ditata rapi berbentuk melingkar. Penataan batu kapur tersebut dikerjakan 20orang pekerja.

c. Batu-batu yang sudah ditata tadi, kemudian dibakar selama dua siang tiga malam. Dalam membakar gamping tidak boleh asal membakar karena .hasilnya bisa menjadi tidak terlalu bagus. Jika dalam pembakaran menggunakan karet, harus diperhatikan jumlah karet yang dibakar karena kalau kebanyakan karet pembakar, batu kapur yang ditata tadi bisa roboh. Pembakaran batu kapur ini dikerjakan oleh empat pekerja.

c. Setelah matang, keesokan harinya batu gamping dibongkar, kemudian diangkut ke truk untuk dipasarkan. Jika ada gamping yang tidak matang atau kena dingin terlalu lama maka akan menjadin kapur dan tidak laku dijual. Kegiatan pembongkaran ini dikerjakan oleh 18orang.



4. Pemasaran

Gamping ini dipasarkan ke berbagai daerah di Jawa Timur, yaitu: Pandaan, Pasuruan, Bangil, Japanan, dan Porong. Selain itu juga dijual kepada masyarakat sekitar.