Powered By Blogger
Tampilkan postingan dengan label Geosfer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Geosfer. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Maret 2012

KEKAYAAN SUMBERDAYA MINERAL UNTUK PENINGKATAN SDM DI MALANG SELATAN DAN KIAT SUKSES MASUK PTN

Berkaitan dengan peringatan Hari Ulang Tahun SMAPa ke-28, OSIS SMAPa menyelenggarakan pembelajaran umum bertema" Kekayaan Sumberdaya Mineral untuk Peningkatan SDM di Daerah Malang Selatan dan Kiat Sukses Masuk PTN" pada 13 Pebruari lalu. Tidak tanggung-tanggung, pengurus OSIS mengundang narasumber dari Universitas Brawijaya (UB) Malang.  Narasumber yang dimaksud adalah putra asli Malang Selatan yang ahli Geofisika. Beliau adalah Adi Susilo, Ph.D. yang dalam kegiatan sehari-hari menjabat sebagai ketua jurusan Fisika, FMIPA-UB dan sebagai pejabat pada Pusat Penelitian Kebumian dan Mitigasi Bencana. Kegiatan ini bertujuan agar warga Malang Selatan, khususnya siswa SMAPa memahami dan menyadari kekayaan sumberdaya mineral yang ada di lingkungan sekitar mereka, dan pada gilirannya mereka merasa terpanggil untuk menuntut ilmu setinggi mungkin hingga dapat mengelola kekayaan sumberdaya mineral tersebut secara bijaksana demi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia, khususnya di daerah Malang Selatan itu sendiri. Selebihnya paparan beliau yang ditayangkan dengan menggunakan Microsolf PowerPoint ini dapat dicermati dengan mengklik:
Unduh

Sabtu, 25 Februari 2012

BAHAN AJAR BATUAN DAN MINERAL

Bahan ajar yang ada dalam posting ini sebenarnya sebagian besar merupakan kumpulan dari materi batuan dan mineral yang di-posting-kan secara parsial menurut subyek-subyeknya. Pada kesempatan ini ditampilkan secara utuh dalam bentuk tayangan PowerPoint dengan slide berjumlah 119. Foto-foto yang tersaji sebagian besar dari hasil jepretan 'nuansa masel' sendiri dan sebagian kecil diambil dari gambar-gambar yang ada pada google.

Bahan ajar ini baik untuk digunakan dalam rangka mendukung persiapan Olimpiade Sains Nasional (OSN) Kebumian, di samping juga sangat bermanfaat dalam pembelajaran Geografi, khususnya yang berkaitan dengan  materi pembelajaran lithosfer yang diberikan di kelas X (sepuluh) semester 2 (dua) dan pada materi potensi sumberdaya alam Indonesia dan persebarannya, submateri sumberdaya alam mineral. Bagi pembaca yang berminat memilikinya dapat mengunduhnya dengan mengklik:
Unduh

Minggu, 11 Desember 2011

EKSKUL KEHUTANAN

Gambar di samping ini bukan menunjukkan kegiatan pembelajaran kepada siswa untuk merusak hutan. Kegiatan yang mereka lakukan justru sebaliknya. Kegiatan yang diikuti oleh siswa kelas X (sepuluh) ini adalah kegiatan Ekstrakurikuler (Ekskul) Kehutanan dengan tujuan siswa memiliki keterampilan memelihara dan memanfaatkan hutan secara arif dan ekoefisien, mengingat hutan memiliki fungsi langsung dan tak langsung yang sangat besar bagi kehidupan manusia. Dengan demikian mereka juga bisa menerapkan pembelajaran Geografi, khususnya yang berkaitan dengan kompetensi dasar dan/atau materi tentang biosfer, sumberdaya alam, dan lingkungan hidup. Di samping itu, Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa, Pendidikan Kewirausahaan, dan Pendidikan Penanggulangan Bencana juga tercakup dalam kegiatan ini.

Ekstrakurikuler kehutanan itu sendiri merupakan salah satu kegiatan ekstrakurikuler yang ada di SMA Negeri 1 Pagak Kabupaten Malang. Kegiatan ekstrakurikuler tersebut dilaksanakan di laboratorium kehutanan seluas lebih kurang 0,25ha yang terletak di sebelah timur dan selatan ruang kegiatan belajar (ruang kelas), menempati lahan tidur yang semula berupa tegalan. Laboratorium kehutanan itu sendiri dirintis sejak akhir 2002. Tepatnya sekitar bulan Oktober 2002. Tanaman utama yang dikembangkan dalam laboratorium kehutanan ini adalah tanaman Jati.

Mengingat jati yang ditanam dalam laboratorium kehutanan sudah berumur sembilan tahun, maka perlu adanya penjarangan tanaman. Jarak tanam pada awal penanaman jati adalah 3 x 1, artinya jarak antarbibit jati, misalnya untuk deretan arah utara--selatan sejauh 3m dan jarak untuk arah timur--barat sebesar 1m. Jarak tersebut dikembangkan berdasarkan saran dari seorang karyawan Perhutani. Jarak itu diterapkan agar bibit jati yang ditanam tersebut menjadi lurus. Kini tanaman jati tersebut rata-rata sudah relatif besar dengan tinggi rata-rata di atas tujuh meter. Mengingat hal tersebut, maka perlu penjarangan agar jarak minimum antartanaman jati menjadi 3 x 2. Penjarangan itu sendiri sudah mulai dilaksanakan tiga tahun yang lalu.

Penjarangan berarti penebangan pohon. Penebangan pohon yang diterapkan dalam ekstrakurikuler ini hanya berlaku sesuai jarak 3 x 2 atau 3 x 3 dan tanaman yang ditebang itu dipastikan tanaman yang relatif tidak lurus serta berukuran relatif kecil dibandingakan dengan tanaman-tanaman jati lain yang ada di sekitarnya. Pohon jati yang diperkirakan nantinya berongga juga ditebang. Kayu jati hasil tebangan rencananya akan dibuat tempat duduk siswa ketika waktu istirahat. Dan apabila jati ini sudah masanya dipanen, hasilnya digunakan untuk kemajuan dan kesejahteraan warga SMAPa, sebutan untuk SMA Negeri 1 Pagak. Semoga.

Rabu, 07 September 2011

PROFIL TANAH DI DAERAH KARST

Seperti inilah profil tanah pada sebuah perbukita di daerah karst di daerah Malang selatan, tidak selayaknya profil tanah. Umumnya profil tanah diawali oleh horison O, horison A, horison B, horison C, dan baru kemudian batuan induk (horison D). Tampak jelas pada gambar bahwa profil tanah tersebut hanya ditemukan dua horison, yakni horison A dan batuan induk (horison D). Horison O yang terdiri dari sisa-sisa organisme, yakni dari guguran dedaunan dan ranting tumbuhan nyaris tidak ada walaupun nampak jelas di atas lapisan tanah tersebut ditumbuhi pepohonan. Demikian pula horison B, tempat pencucian lapisan tanah dari horison A tidak ditemukan. Horison C pun yang biasanya berupa pecahan-pecahan (fragmen) batuan induk, juga tidak ditemukan pada profil tanah ini. Sedangkan horison A itu sendiri hanya tampak sebagai lapisan tanah tipis tak lebih dari 10cm di atas batuan induk yang berupa batuan kapur (limestone). Batuan induk (bedrock) yang merupakan horison D tampak mendominasi.

Tampak pula dalam gambar, beberapa akar tumbuhan menerobos beberapa meter ke dalam batuan kapur melalui diaklas-diaklas yang ada pada batuan tersebut. Hal tersebut juga menjelaskan adanya proses pelapukan biologis, di samping pelapukan utama di daerah karst, yakni pelapukan khemis (kimia). Pelapukan yang demikian sering pula disebut dengan pelapukan bio-khemis.  

Jumat, 19 Agustus 2011

RIAM-RIAM KECIL PADA ANAK KALI KONTO

Riam-riam kecil di antara batuan-batuan vulkanik ini mengalir pada sebuah anak sungai kecil yang lebarnya tak lebih dari 5m ini begitu indah dan menyejukkan. Sungai kecil itu berhulu dari lereng selatan gunung Argowayang yang termasuk komplek gunung berapi Argowayang-Anjasmoro-Welirang-Buthak-Kawi-Kelut. Anak sungai kecil ini merupakan anak sungai dari Kali Konto. Latar depan dari gambar yang tertera pada posting ini merupakan pertemuan (muara) antara anak sungai kecil tersebut dengan kali Konto. Kali Konto sendiri merupakan anak sungai yang menjadi kesatuan dalam Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas.

Batuan-batuan vulkanik yang menilik warnanya ini termasuk batuandesit, berfungsi menghambat laju aliran air pada lembah kecil. Dengan terhambatnya aliran air inilah laju erosi sungai juga dapat diminimalkan. Lantaran itu tidak mengherankan adanya larangan mengambil batu-batu kali tersebut. Memang batu kali tersebut baik untuk bahan bangunan, di antaranya untuk pondasi bangunan gedung, rumah, dan juga untuk pengeras jalan. Dalam penggolongan bahan galian, batu-batu tersebut termasuk bahan galian golongan c.

Kamis, 23 Juni 2011

PIROPILIT KEMERAHAN DAN COKLAT BERCAK PUTIH

Seperti yang dikemukakan pada posting sebelumnya (Piropilit--Al2Si4O10(OH)2), bahwa piropilit memiliki warna putih, kuning pucat, dan/atau coklat kemerahan. Pada posting sebelumnya telah ditampilkan gambar piropilit warna putih keabu-abuan, maka pada posting ini disajikan piropilit warna coklat kemerahan dan piropilit coklat dengan bercak putih. Kedua mineral dengan warna berbeda tersebut ditemukan pada lokasi penambangan piropilit di Desa Argotirto Kecamatan Sumbermanjing, Kabupaten Malang. Piropilit warna coklat kemerahan dan piropilit coklat bercak putih ini jumlahnya tidak sebesar piropilit yang berwarna putih dan piropilit yang berwarna putih keabu-abuan. Lantaran warna yang berbeda itulah yang membuat "nuansa masel" penasaran.

Menurut Dr. Sunaryo, S.Si., M.Si., Ketua Program Studi Geofisika Jurusan Fisika FMIPA, UB Malang bahwa warna merah yang ada pada piropilit berasal dari feldspar. Feldspar, juga piropilit termasuk dalam grup mineral silikat yang tersusun dari alumunium dan silika. Mineral ini merupakan mineral paling umum atau paling banyak ditemukan di muka Bumi. Selanjutnya Dr. Sunaryo menjelaskan bahwa garis merah (lihat gambar atas) itu menunjukkan proses perlapisan dari feldspar itu. Sedangkan gambar bawah, feldspar coklat bercak putih, ada yang mengatakan bahwa warna coklat tersebut berasal dari kotoran yang mengandung potasium.

Sabtu, 18 Juni 2011

PIROPILIT--Al2Si4O10(OH)2

Mineral yang gambarnya tersaji dalam posting ini menurut Ketua Jurusan Fisika dan Program Studi Geofisika FMIPA--UB, Adi Susilo, Ph.D. adalah piropilit. Hal ini dikemukakan beliau ketika doktor lulusan sebuah perguruan tinggi Australia tersebut membimbing mahasiswanya dalam kuliah lapangan Geologi (tentang batuan dan mineral) di Kecamatan Sumbermanjing Kabupaten Malang yang baru lalu. Menurut http://www.tekmira. esdm.go.id dijelaskan bahwa piropilit adalah paduan dari alumunium silikat. Mineral yang termasuk piropilit adalah kianit, andalusit, dan diaspor. Sifat fisik dan kimia dari piropilit ini mirip dengan talk.

Roger Weller, seorang kurator yang sekaligus sebagai pengajar pada Cochise College, AS pada http://skywalker.cochise.edu memerinci sifat-sifta dari piropilit sebagai berikut:
Grup mineral: silikat
Susunan kimia: Al2Si4O10(OH)2
Sistem kristal: monoklin
Belahan: sempurna, belahan dalam satu arah
Kekerasan: 1 sampai 1,5
Berat jenis: 2,84
Kilap: mutiara di atas permukaan belahan, lemak atau kusam
Warna: putih, kuning pucat, coklat kemerahan
Gores/cerat: putih
Terdapatnya: dalam formasi andesit tua yang memiliki kontrol struktur dan intensitas ubahan hidrotermal kuat. Piropilit terbentuk pada zone ubahan argilik lanjut (hipogen) seperti kaolin, namun terbentuk pada temperatur tinggi dan pH asam (http://www.tekmira. esdm.go.id).
Persebarannya di Indonesia: pulau Sumatera, Provinsi Jawa Barat, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan pulau Sulawesi (http://www.tekmira. esdm.go.id). Untuk Provinsi Jawa Timur, salah satu tempat persebarannya adalah di Kecamatan Sumbermanjing Kabupaten Malang.
Kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari: untuk pakan ternak, industri kertas sebagai pengganti talk, dll (http://www.tekmira. esdm.go.id).

Keterangan gambar:
Dokumentasi pribadi dengan obyek yang diambil di daerah perbatasan antara Kecamatan Turen dan Kecamatan Sumbermanjing, Kabupaten Malang.

Sumber:
- Adi Susilo penjelasan lisan pada kuliah lapangan di Kecamatan Sumbermanjing, Kab. Malang.
- Roger Weller pada http://skywalker.cochise.edu
- http://www.tekmira. esdm.go.id

IKAN YANG DIPERDAGANGKAN DI PASAR IKAN SENDANGBIRU

Ikan yang diperdagangkan di pasar ikan Sendangbiru dipengaruhi oleh hasil tangkapan para nelayan. Jika hasil tangkapan nelayan berlimpah, baik dalam jumlah dan jenis, maka ikan yang diperdagangkan di pasar tersebut akan selalu mengikutinya. Berbagai jenis ikan yang dijajakan dalam lapak-lapak sederhana antara lain berbagai jenis ikan tuna, tongkol, tengiri, bandeng laut, cucut, kembung, bayeman, ikan pari, dan berbagai jenis ikan lainnya. Di samping ikan, dijajakan pula cumi-cumi, gurita, dan udang laut. Umumnya dalam keadaan segar. Memang dalam jumlah terbatas masih dijumpai pula ikan asin (ikan kering).

Harga ikan di pasar ikan Sendangbiru ini relatif murah. Ikan tuna 1kg dengan jumlah ikan dua ekor dijual seharga Rp 15.000,- Ikan tongkol lebih murah lagi. Satu kilogramnya dihargai sekitar Rp 15.000,- Ikan tengiri sedikit lebih mahal. Satu kilogram ikan tengiri dijual dengan harga di atas Rp 25.000,- Sedang udang laut satu kilogramnya seharga Rp 35.000. Para pembeli ikan di tempat ini bisa juga membeli ikan yang sudah dipanggang. Ikan pindang juga tersedia.
Sedangkan ikan-ikan yang ukurannya melebihi 10kg biasanya diekspor ke berbagai negara, di antaranya ke Jepang.

Kamis, 16 Juni 2011

PASAR IKAN SENDANGBIRU

Inilah tempat satu-satunya di Kabupaten Malang yang secara resmi dijadikan sebagai tempat jual--beli ikan hasil tangkapan nelayan yang dikelola oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur, tepatnya oleh Dinas Perikanan dan Kelautan. Nama Sendangbiru mungkin diambil dari kata sendhang tempat yang berair, dan biru. Jadi mungkin Sendangbiru mengandung arti suatu tempat yang mengandung air berwarna biru.
Memang itulah realitannya. Pasar ikan yang terletak di tepi pelabuhan alam ini berair tenang, jernih, dan membiru, serta dibentengi pulau Sempu dari samudera luas di latar depannya.

Ditinjau dari keadaan bangunannya, pasar ini terlihat masih relatif baru. Dibangun beberapa tahun yang lalu. Kumpulan kiosnya masih ada satu deret. Teratur rapi dan relatif bersih. Walaupun demikian, tempat yang sekaligus sebagai tempat pendaratan perahu-perahu nelayan ini sebagian kecil dari dermaga dan plengsengan penahan abrasi sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan.

Secara administratif pasar ikan ini berada di wilayah Kecamatan Sumbermanjing. Bukan Kecamatan Sumber Manjing Wetan. Mungkin penulis papan nama pasar tersebut tidak tahu nama kecamatan yang benar. Demikian pula cara penulisan nama tempat yang benar. Padahal aturan penulisan nama tempat di Indonesia, secara Kartografi harus bersambung.

Rabu, 15 Juni 2011

BATUBARA DI DAERAH KARST

Batubara terbentuk karena sisa-sisa tumbuhan (tumbuhan telah mati/tumbang) yang terpendam tanah atau batuan dalam waktu sangat lama. Menurut Kuswanto, dkk. (1983:32) bahwa jenis tumbuhan tropis pembentuk batubara adalah gelamariacen, hapidodendrale, dan pkridadperma (pohon yang daunnya seperti pakis). Tanah atau batuan yang menimbun tersebut dari sedimentasi yang terakumulasi terus-menerus hingga terjadi perubahan situasi geologi. Sisa-sisa tumbuhan yang terpendam tersebut memperoleh tekanan dalam waktu sangat lama hingga kemudian terbentuk batubara. Batubara bisa juga terbentuk melalui kontak dengan panasnya magma yang ada di bawahnya. Di samping kedu hal tersebut, batubara bisa terjadi melalui pengaruh tekanan dan kontak dengan panasnya magma.

Selanjutnya, Kuswanto dkk. (1983:33--34) menjelaskan tentang batubara sebagai berikut: Syarat-syarat terbentuknya batubara:
1. Hutan tropika di daerah berawa-rawa.
2. Merupakan daerah geosinklinal yang mengakibatkan:
a. Lapisan-lapisan organisme terputus hubungannya dengan udara, sebab kemungkinannya besar sekali di atas organisme itu akan terjadi lapisan lempung. Lempung merupakan bahan penutup yang baik sekali.
b. Lapisan di atasnya makin tebal hingga menimbulkan suhu dan tekanan yang tinggi.

Proses pembentukan batubara disebut proses inkolen, yakni kadar air dan bahan-bahan mudah menguap yang ada dalam sisa-sisa tumbuhan tersebut makin kecil, sedang kadar C (arang) makin bertambah. Proses ini berlangsung dalam dua tahap, yakni:
1. Proses biokimia
Proses ini dijalankan oleh bakteri anaerob dalam keadaan diagenesis, artinya sisa-sisa tumbuhan itu menjadi keras lantaran beratnya sendiri. Proses ini mengakibatkan sisa-sisa tumbuhan tersebut berubah menjadi turf, yaitu sisa-sisa tumbuhan yang masih utuh tetapi sudah mengalami perubahan warna.
2. Proses metamorfosa
Dalam proses ini bakteri dalam sisa-sisa tumbuhan sudah tidak ada lagi dan telah tergantikan oleh pengaruh tekanan dan suhu tinggi dalam waktu yang lama.

Berdasarkan kedua proses tersebut di atas, batubara dapat diklasifikasikan menurut kadar C-nya, yaitu:
a. Kayu, apabila kadar zat arangnya sebesar 50%
b. Turf/veen, apabila kadar zat arangnya 59%
c. Batubara muda, jika kadar zat arangnya 69%
d. Batubara gas, jika kadar zat arangnya 80%
e. Batubara gemuk, jika kadar zat arangnya 88%
f. Grafit, apabila kadar zat arangnya 100%
g. Antrasit, apabila kadar zat arangnya 95%
h. Batubara kering, apabila kadar zat arangnya 92%

Kedua gambar dalam posting ini merupakan hasil dokumentasi "nuansa masel" mengikuti kuliah lapangan mahasiswa jurusan Fisika program studi Geofisika FMIPA UB di Kecamatan Sumbermanjing, Kabupaten Malang. Gambar atas merupakan formasi batubara pada sebuah singkapan pada tanah dan/atau batuan gamping yang membentuk tebing setinggi lebih kurang 7m di Desa Sumberagung. Lapisan batubara tersebut terdapat pada lahan milik penduduk yang diatasnya ditanami pepohonan dan tanaman semusim. Sekilas lapisannya hanya tipis saja yang mungkin depositnya juga relatif kecil. Menurut "nuansa masel", fenomena ini menjadi menarik karena lapisan batubara ini terkubur oleh lapisan sedimen yang berupa tanah dan/atau batuan kapur. Kalau daerah setempat berbatuan induk kapur, berarti daerah tersebut dulunya merupakan laut. Dengan demikian sisa-sisa tumbuhan yang membentuk batubara tersebut, dahulunya merupakan tumbuhan tropis yang hidup di rawa-rawa pantai.
Sedangkan gambar bawah, merupakan lapisan batubara yang terdapat di tebing sungai karst yang lapisan tanah berbatuan induk kapurnya telah tergerus erosi. Batubara tersebut juga berlokasi di desa Sumberagung. Sekilah depositnya juga relatif terbatas. Sekedar diketahui bahwa di antara batuan kapur di Kecamatan Sumbermanjing ini ditemukan pula formasi batuan vulkanis (batuan beku) sebagai penyelingnya. Adapun untuk manfaat batubara ini dapat dilihat pada posting sebelumnya.

Sumber:
- Direktorat Pertambangan, Departemen Pertambangan. 1969. Bahan Galian Indonesia. Jakarta: Departemen Pertambangan.
- Kuswanto, dkk. 1983. Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa 1. Solo: Tiga Serangkai.
- Setia Graha, Doddy. 1987. Batuan dan Mineral. Bandung: Nova.

Selasa, 14 Juni 2011

PELABUHAN SENDANGBIRU

Pelabuhan Sendangbiru merupakan pelabuhan yang terjadi lantaran proses alam pada sebuah teluk Sendangbiru dengan latar depannya terlindungi oleh pulau Sempu. Lantaran adanya pulau Sempu itulah pelabuhan Sendangbiru menjadi relatif teduh/terlindung dari hantaman gelombang besar yang datang dari lautan bebas, yakni samudera Indonesia/samudera Hindia. Secara administratif pelabuhan Sendangbiru berada di Kecamatan Sumbermanjing, Kabupaten Malang.

Sesuai dengan namanya, pelabuhan tersebut memang berair membiru dan jernih. Sejauh mata memandang, warna biru itu akan nampak mendominasi perairan tersebut yang kemudian dibatasi oleh hijaunya hutan pulau Sempu yang merimbun di seberangnya. Hijaunya vegetasi penutup perbukitan yang merupakan bagian dari rangkaian pegunungan Kidul, sebagai pegunungan kapur (karst), melatarbelakang pantai ini.

Pelabuhan Sendangbiru merupakan pelabuhan yang didominir oleh perahu-perahu atau kapal-kapal nelayan. Dengan demikian pelabuhan tersebut bisa dikatakan sebagai pelabuhan perikanan yang bisa juga disebut dengan tempat pendaratan ikan. Inilah satu-satunya pelabuhan yang terkelola di Kabupaten Malang. Selebihnya tersebar secara sporadis di berbagai tempat di wilayah perairan pantai Malang Selatan yang sifatnya hanya sebagai tempat pendaratan ikan dengan jumlah nelayan dan jumlah perahu yang lebih sedikit. Ukuran perahunya pun lebih kecil. Misalnya, tempat pendaratan ikan di pantai Kondangmerak, mBanthol, dan nJonggringsaloka.

Menurut informasi, perahu yang bersandar di pelabuhan tersebut tidak hanya perahu nelayan lokal di Kabupaten Malang, tetapi juga para nelayan lain yang datang dari berbagai wilayah di Indonesia. Mereka datang dari Madura dan dari berbagai kota di pantai utara Jawa Tengah. Di pelabuhan Sendangbiru inilah kemudian para nelayan menjual hasil tangkapannya.

Hasil tangkapan tersebut kemudian oleh para pedagang didistribusikan ke beberapa tujuan. Ikan hasil tangkapan nelayan itu ada yang dijual di pasar ikan kompleks pelabuhan tersebut, dijajakan keliling di desa-desa di daerah Malang Selatan, dikirim ke berbagai pasar di Kota Malang, bahkan ada yang diekspor. Kalau informasi dari mediamassa tentang pembangunan industri pengolahan ikan sudah terwujud, sebagian ikan hasil tangkapan nelayan tersebut diolah dahulu dan kemudian baru diekspor.

Sabtu, 11 Juni 2011

KALI PENGULURAN

Kali Penguluran merupakan sungai yang di atasnya terbentang satu jembatan di jalan raya Lintas Selatan pulau Jawa, Jembatan Bajulmati namanya. Kali ini merupakan salah satu sungai yang mengalir di daerah bertopografi karst dan memiliki satu anak sungai, yakni kali Bambang. Mengingat berada di daerah karst, maka tentu ada bagian dari sungai ini yang menghilang/masuk ke dalam lapisan batuan/tanah. Lantaran itu, kali Penguluran ini termasuk kategori sungai sink hole.

Gambar yang tertera di atas, merupakan bagian dari Daerah Aliran Sungai (DAS) bagian hilir dari kali Penguluran. Nampak aliran sungai tersebut terbelah menjadi dua lantaran terhalang bukit yang berupa kubah kapur (karst) sebelum bermuara ke samudera Indonesia/Hindia. Pantai Bajulmati nama muara sungai tersebut. Warna air sungai ini hijau kebiruan. Dugaan penulis, air sungai tersebut banyak dipenuhi oleh organisme air semisal ganggang hijau dan/atau lumut. Dan bisa dipastikan air sungainya payau mengingat sudah dekat dengan muara. DAS Penguluran merupakan batas alam antara Kecamatan Gedangan dengan Kecamatan Sumbermanjing, Kabupaten Malang. Banyak para pemancing yang memanfaatkan sungai ini untuk menyalurkan hobi. Hanya sayang, penulis tak sempat menanyakan jenis ikan perolehan mereka.

Keterangan gambar:
Dokumentasi pribadi dengan menggunakan kamera saku "Sony DSC-W150.

Jumat, 10 Juni 2011

JEMBATAN BAJULMATI

Jembatan Bajulmati merupakan salah satu jembatan baru yang dibangun seiring dengan dibukanya proyek jalan baru di selatan pulau Jawa, "Lintas Selatan".

Sebagai jembatan yang dibangun pada abad ke-21 bisa dibilang relatif sempit, karena jembatan yang diberi pemisah di bagian tengahnya, hanya mampu menampung satu mobil kecil dan satu kendaraan roda dua dalam satu jalurnya. Rasanya kalau ada satu kendaraan roda dua dan satu kendaraan besar yang berdampingan lewat jembatan dalam satu jalur yang sama, sudah sangat beresiko. Padahal jalur ini nantinya digunakan sebagai jalur alternatif/penampung limpahan kendaraan yang semakin padat di jalur yang telah ada sebelumnya, di jalur utara dan tengah pulau Jawa. Semoga ruas jalan di lintas selatan pulau Jawa ini yang belum terselesaikan bisa segera terwujud untuk meningkatkat aksesibilitas masyarakat di selatan pulau Jawa ini.

Keterangan foto:
Foto koleksi pribadi dengan menggunakan kamera merk Sony DSC-W150 pada 26 Maret 2011, sekitar pukul 13.00WIB.

Selasa, 26 April 2011

MATERIAL RUNTUHAN KLIF

Inilah batuan kapur berongga hasil abrasi laut terhadap dasar/kaki suatu klif. Dasar klif yang terus menerus digempur oleh swash dan backwash mengakibatkan cekungan atau ceruk dasar klif. Bagian atas cekungan menjadi tidak stabil. Lantaran pengaruh gaya beratnya, bagian atas ceruk di dasar klif tersebut menjadi runtuh. Akibatnya terbentuklah wave cut platform, dasar klif menjadi mundur. Di tempat itulah material runtuhan dasar klif teronggok. Jika material itu memanjang membentuk tanggul, maka tempat tersebut merupakan tempat ideal bagi organisme perairan laut dangkal.

Senin, 25 April 2011

FOSIL KAYU

Batuan sedimen merupakan batuan yang kaya fosil. Fosil yang menjadi bahan posting kali ini adalah fosil kayu. Lebih tepatnya adalah batang atau bahkan mungkin ranting dari suatu pohon. Fosil kayu ini ditemuka dalam lapisan batuan kapur di wilayah Malang Selatan. Penulis tidak tahu pasti jenis pohon atau kayu yang memfosil tersebut. Sekilas fosil tersebut seperti fosil kayu jati yang memang banyak tumbuh di wilayah tersebut. Diameter batangnya 6cm dan panjangnya 20cm. Pada bagian kulitnya nampak telah berubah menjadi krital kapur yang relatif hampir sempurna seperti kalsit. Sedang bagian tengahnya sekilas nampak menghitam. Fosil ini relatif berat.

Dalam sebuah acara televisi, penulis pernah menyaksikan tayangan tentang perburuan fosil kayu. Ada tiga pihak yang terlibat berkaitan dengan fosil yang satu ini. Pihak pertama adalah orang-orang yang berprofesi sebagai sebagai pemburu fosil. Pihak kedua adalah para pengepul yang sekaligus sebagai pedagang fosil. Sedangkan pihak ketiga adalah para pembeli yang sekaligus sebagai kolektor fosil. Hanya biasanya mereka cendurung mencari fosil kayu yang ukurannya relatif besar.

Dalam mencari fosil biasanya para pemburu membentuk kelompok yang satu kelompoknya terdiri dari sekitar 5--10orang anggota. Berbekal pengalaman, mereka akan mencari tempat-tempat yang dicuriagai mengandung fosil. Setelah menemukan tempat yang diduga mengandung fosil yang dimaksud, maka penggalian dimulai. Tidak jarang mereka menemukan fosil pangkal batang suatu pohon beserta akar-akarnya. Jika sudah tergali, mereka akan menaikkan ke atas galian. Kalau keadaan medannya memungkinkan, dalam menaikkan fosil tersebut para pemburu fosil menggunakan derek atau katrol. Tetapi kalau medannya sulit, terpaksa menggunakan tenaga manual. Fosil diangkat beramai-ramai menggunakan tali dan peralatan sederhana. Jika fosil kayu tersebut ukurannya besar dan ditambah bentuknya indah, serta fosilnya relatif utuh, maka fosil tersebut akan laku dengan harga tinggi. Kisaran harganya antara puluhan sampai ratusan juta rupiah. Ada yang berminat?

Jumat, 22 April 2011

CERUK DASAR KLIF DAN RUMPUT LAUT

Ceruk dasar kaki klif merupakan produk pengikisan air laut (abrasi) pada dasar atau kaki pantai klif (cliff) yang berbentuk seperti cekungan. Sebagaimana pantai klif, ceruk ini biasanya terjadi pada pantai berbukit/berpegunungan yang lautnya bergelombang besar. Deburan air laut yang berupa swash dan backwash yang berperan dalam pembentukan ceruk dasar kaki klif ini.

Gambar yang tersaji di atas merupakan bagian dari daerah pantai/pesisir Ngliyep, Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang. Bagian perairan laut dangkal di sekitar ceruk banyak ditumbuhi ganggang/rumput laut. Ganggang/rumput laut tropis yang memang hanyak hidup di sekitar daerah tersebut. Ketika air laut mengalami pasang surut seperti yang nampak pada gambar, ganggang/rumput laut tersebut yang teronggok di sekitar ceruk. Sayang, potensi sumberdaya alam ini belum dikelola dengan baik oleh masyarakat sekitar. Memang ada sekelompok kecil dari mereka yang telah memanfaatkannya. Mereka pun hanya sekedar mengambil tersedia di alam, lingkungan mereka. Padahal menurut penuturan seseorang yang pernah berprofesi sebagai pengumpul ganggang/rumput laut, bahwa tumbuhan laut itu belum tentu setiap saat ada. Pada saat tertentu, tumbuhan tersebut tidak nampak dan pada saat yang lain, di bulan-bulan berikutnya nampak hidup subur di perairan dangkal di sekitar ceruk klif. Belum ada di antara pengumpul ganggang/rumput laut tersebut yang berusaha membudidayakan, walau di berbagai tempat lain di Indonesia usaha tersebut sudah banyak dilakukan.

Keterangan foto:
Dokumentasi Ayun Finanti.

Jumat, 15 April 2011

BATUKAPUR

Batukapur sering pula disebut dengan batugamping (limestone). Batukapur merupakan batuan padat yang termasuk batuan sedimen. Batuan ini terbentuk lantaran sisa-sisa organisme laut. Karakter dari batukapur adalah: komposisinya kalsium karbonat (CaCO3); warna putih, abu-abu, kuningtua, abu-abu kebiruan, jingga, dan hitam; dan berat jenisnya 2,6--2,8.

Indonesia merupakan negara yang kaya dengan batuan kapur. Umumnya berupa pegunungan kapur yang tersebar di berbagai Provinsi, yakni di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam; Penen--Medan dan Tarutung (Sumatera Utara, berupa endapan air panas); Karangputih (Sumatera Barat, berupa endapan berlapis); Karangnunggal (Jawa Barat, berupa endapan berlapis lensa), Kuripan--Bogor, Cipanas, Cirebon (Jawa Barat, berupa fresh water limestone), dan di berbagai daerah di Jawa Barat lainnya; berbagai daerah di Jawa Tengah; Bluto--Madura (berupa endapan berlapis), pulau Madura pada umumnya, dan berbagai daerah di Jawa Timur; berbagai daerah di Kalimantan Barat; dan di Tonasa (Sulawesi Selatan, berupa endapan berlapis), serta di berbagai tempat lainnya di Indonesia.

Pemanfaatan batukapur dalam kehidupan sehari-hari adalah untuk batu pondasi bangunan, bata (batu kumbung), pengeras jalan, dan serbuk kapur. Di samping itu batukapur digunakan pula sebagai bahan mentah dalam industri semen Portland, semen Roma, kalk zandsteen, dan semen alam. Dalam industri keramik, batukapur dipakai sebagai bahan mentah dalam pembuatan gelas, alat-alat dari gelas, dan email. Dalam industri gula, batu kapur digunakan untuk pembuatan kalsium. Sedang dalam industri kimia, batu kapur digunakan untuk pembuatan gas CO2, CaC, CaO, dan CaCl2. Di samping itu batukapur juga digunakan untuk pemberi warna pada industri minyak, untuk bahan-bahan kedokteran, pasta, pencegah penyakit tanaman, dan pupuk. Pada industri logam, batukapur dipakai untuk merendahkan titik lebur (flux), bahan-bahan tahan api, dan bahan cetak ofset (litografi).

Posting tersebut di atas berkaitan dengan matapelajaran Geografi SMA yang diberikan di kelas XI.IPS dengan Standar Kompetensi: 2. Memahami sumberdaya alam, Kompetensi Dasar: Mengidentifikasi jenis-jenis sumberdaya alam, dengan Materi Pembelajaran: Potensi sumberdaya alam. Di samping itu berkaitan pula dengan Materi Pembelajaran: Lithosfer yang diberikan untuk kelas X semester 2, serta materi dengan judul yang sama pada Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Kebumian.


Sumber:
- Direktorat Pertambangan, Departemen Pertambangan. 1969. Bahan Galian Indonesia. Jakarta: Departemen Pertambangan.
- Dari berbagai sumber lain.

Keterangan foto:
Dokumentasi pribadi dengan obyek batukapur yang ada di Malang Selatan.

BATUAPUNG

Batuapung (pumice) merupakan batuan produk dari letusan (erupsi) eksplosif gunung berapi yang termasuk material eflata aotogen. Eflata aotogen adalah material erupsi yang berasal dari magma gunung berapi itu sendiri. Eflata autogen sering pula disebut dengan piroklastika. Proses terbentuknya, magma yang keluar melalui kawah (kemudian disebut lava) terlempar ke udara ketika erupsi terjadi. Buih lava yang bercampur uap dan gas-gas terlempar ke udara tersebut kemudian mengalami pendinginan yang sangat cepat, sehingga tidak sempat mengalami kristalisasi dan berstruktur berlubang-lubang/berpori-pori (porous).

Batuapung ini berbentuk bongkahan (block), butiran, maupun pecahan (fragmen) padat halus atau kasar. Batuan beku luar ini kaya akan silika, alumina, potash, soda, dan besi oksida. Endapan batuapung bisa juga bercampur dengan diatomea, silt, atau kalkareus. Umumnya batuapung berwarna putih, abu-abu, abu-abu kebiruan, abu-abu gelap, kemerahan, kekuningan, atau jingga. Batuan ini disebut batuapung karena batu ini ketika kering dapat terapung di permukaan air. Deposit batuapung bisa mencapai ketebalan lebih dari 3.300m yang berada di sekitar gunung berapi. Persebaran batuapung di Indonesia meliputi pulau Sumatera bagian tengah; Provinsi Sumateri Selatan; pulau-pulau Krakatau Provinsi Lampung; Ciomas, gunung Kiaraberes, Cicurug, dan Nagrek Provinsi Jawa Barat; serta jalur vulkanik dari bagian timur kepulauan Indonesia.

Manfaat batuapung dalam kehidupan sehari-hari adalah sebagai bahan mentah dalam membuat bahan-bahan poles, logam, mortar dan beton, bata ringan, bata tahan api, sabun tangan, bahan asah, plester, berbagai filter, genteng, cat, pasta gigi, bedak, pengesat karet, pengisi aspal, dan untuk industri keramik.

Posting tersebut di atas berkaitan dengan matapelajaran Geografi SMA yang diberikan di kelas XI.IPS dengan Standar Kompetensi: 2. Memahami sumberdaya alam, Kompetensi Dasar: Mengidentifikasi jenis-jenis sumberdaya alam, dengan Materi Pembelajaran: Potensi sumberdaya alam. Di samping itu berkaitan pula dengan Materi Pembelajaran: Lithosfer yang diberikan untuk kelas X semester 2, serta materi dengan judul yang sama pada Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Kebumian.

Sumber:
- Direktorat Pertambangan, Departemen Pertambangan. 1969. Bahan Galian Indonesia. Jakarta: Departemen Pertambangan.
- Marbun, M.A. 1982. Kamus Geografi. Jakarta Timur:Ghalia Indonesia.

Keterangan foto:
Dokumentasi pribadi dengan obyek batuapung koleksi pribadi.

Kamis, 14 April 2011

BATUGRANIT

Batugranit merupakan batuan beku (igneous rock) yang terutama tergolong pada batuan beku dalam atau batuan intrusi. Batuan beku ini merupakan batuan asam yang terdiri dari mineral felspar, kuarsa, soda plagioklas, hornblende, biotit, magnetit, dan ilmenit. Kristal pada batuan ini tergolong kristal sempurna dan berbutir besar. Hal ini terjadi lantaran proses pembekuan (pendinginan magmanya sangat lambat atau berlangsung sangat lama). Batuan granit ini sering ditemukan berwarna terang, yaitu abu-abu dan merah muda. Persebaran batugranit di Indonesia mencakup Provinsi Sumatera Barat: Cirebon, Jampangkulo, dan gunung Tangkuban Perahu (Jawa Timur); Kebumen (Jawa Tengah), dan Singkawang (Kalimantan Barat. Dalam kehidupan sehari-hari, batugranit digunakan utnuk bangunan rumah, jembatan, pengeras jalan, bantalan rel keretaapi, untuk batu monumen, paving block, dan sebagainya.

Posting tersebut di atas berkaitan dengan matapelajaran Geografi SMA yang diberikan di kelas XI.IPS dengan Standar Kompetensi: 2. Memahami sumberdaya alam, Kompetensi Dasar: Mengidentifikasi jenis-jenis sumberdaya alam, dengan Materi Pembelajaran: Potensi sumberdaya alam, submateri: - sumberdaya alam mineral. Di samping itu berkaitan pula dengan Materi Pembelajaran: Lithosfer yang diberikan untuk kelas X semester 2 dan materi dengan judul yang sama pada Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Kebumian.

Minggu, 10 April 2011

BATURIJANG

Baturijang (chert) merupakan batuan sedimen silika--kategori sedimen klastis dan berdasarkan tempat diendapkannya termasuk sedimen oceanis (laut dalam). Warna baturijang bermacam-macam, mulai dari coklat, coklat kemerahan, biru, hitam, abu-abu gelap, atau abu-abu dengan permukaan yang licin. Berdasarkan sejarahnya, baturijang terbentuk pada zaman kapur, atau sekitar 90juta tahun yang lalu. Ada yang berpendapat bahwa baturijang terbentuk dari fosil radiolaria (Wakita, dkk dalam diktri.blogspot.com). Juga diatomea (Doddy Setia Graha, 1987:151) Namun ada juga yang berpendapat bahwa baturijang ini terbentuk dari lava bantal yang keluar dari dasar laut dalam, yakni sekitar 2.500m.

Jelasnya, batu rijang tersusun dari mineral opal, kalsedon, kuarsa, dan kristobalit, serta sedikit mengandun kalsit dan dolomit. Batuan ini di alam ditemukan secara berlapis-lapis berasosiasi dengan serpih dan bijih besi atau sebagi nodul-nodul dalam gamping di endapan geosinklin pada zona subduksi.

Akumulasi baturijang ditemukan di daerah Kalitekuk Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang (Jatim); di Karangsambung Kabupaten Kebumen (Jateng); dan di Purwakarta (Jabar). Baturijang di Karangsambung merupakan laboratorium lapangan (Geologi) milik LIPI.
Menilik tempat ditemukannya baturijang ini di daratan, maka dapat dipastikan bahwa tempat-tempat tersebut dahulunya berupa laut yang diperkirakan berkedalaman 120m--200m dan kemudian terangkat ke atau menjadi daratan lantaran adanya tumbukan antarlempeng litosfer (subduksi), yakni antara lempeng Erasia dan lempeng Indoaustralia.

Menurut situs resmi Museum Mpu Tantular Surabaya, bahwa sejak awal peradaban manusia, baturijang sudah banyak dimanfaatkan. Baturijang digunakan untuk membuat api (batu api), kapak genggam, matapanah, dan peralatan lain pada zaman batu. Sedang masyarakat Malang pernah menggunakannya untuk peralatan tahan api/panas, misalnya untuk membakar keramik maupun gerabah.

Posting tersebut di atas berkaitan dengan matapelajaran Geografi SMA yang diberikan di kelas XI.IPS dengan Standar Kompetensi: 2. Memahami sumberdaya alam, Kompetensi Dasar: Mengidentifikasi jenis-jenis sumberdaya alam, dengan Materi Pembelajaran: Potensi sumberdaya alam, submateri: - sumberdaya alam mineral. Di samping itu berkaitan pula dengan Materi Pembelajaran: Lithosfer yang diberikan untuk kelas X semester 2 dan materi dengan judul yang sama pada Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Kebumian.

Sumber:
- Setia Graha, Doddy. 1987. Batuan dan Mineral. Bandung: Nova.
- Wardiyatmoko, K. 2006. Geografi untuk SMA Kelas X. Jakarta: Erlangga.
- http://diktri.blogspot.com
- www.museummputantular.com
- Penuturan masyarakat Donomulyo, Kabupaten Malang.
- Sumber-sumber lain.

Keterangan foto:
Dokumentasi pribadi dengan obyek dari paket batuan/mineral kiriman Kementerian Pendidikan Nasional.