Powered By Blogger
Tampilkan postingan dengan label Atmosfer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Atmosfer. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Januari 2012

ATMOSFER (Bahan Ajar Cetak)

Bahan ajar cetak merupakan perangkat pendukung pembelajaran. Tujuannya adalah untuk membantu siswa agar lebih mudah dalam mempelajari materi pelajaran yang disajikan di kelas. Muaranya, siswa dapat memperoleh hasil pembelajaran yang meningkat, sehingga nilai Kriteria Ketuntasan Minimalnya (KKM)-nya meningkat. Bahan ajar cetak ini berkaitan dengan matapelajaran Geografi kelas X (sepuluh) yang diberikan pada semester 2 (dua) dengan alokasi waktu 5 x 45menint (3 kali pertemuan). Adapun standar kompetensi yang berkaitan dengan bahan ajar cetak ini adalah: 3. Menganalisis unsur-unsur geosfer, dengan kompetensi dasar: 3.2 Menganalisis atmosfer dan dampaknya terhadap kehidupan di muka Bumi.

Sedangkan indikator-indikator yang tercakup pada kompetensi dasar yang berkaitan dengan atmosfer tersebut meliputi:
  1. Mengidentifikasi ciri-ciri lapisan atmosfer serta pemanfaatannya.
  2. Menganalisis dinamika unsur-unsur cuaca dan iklim (penyinaran, suhu, angin, awan, kelembaban udara, dan curah hujan.
  3. Membuat laporan tentang pengukuran suhu, tekanan udara, kelembaban udara, dan kecepatan angin.
  4. Menghitung kelembaban udara.
  5. Menyajikan informasi tentang persebaran curah hujan di Indonesia.
  6. Mengklasifikasi berbagai tipe iklim.
  7. Mengidentifikasi dasar-dasar pembagian iklim dari berbagai pakar.
  8. Menunjukkan pada peta dunia, persebaran negara-negara dan jenis iklimnya.
  9. Menghitung rasio Q pada tipe iklim menurut Schmidt-Ferguson dan W. Koppen.
  10. Menentukan jenis iklim berdasarkan tipe iklim W. Koppen.
  11. Mengidentifikasi faktor-faktor penyebab terjadinya pemanasan global.
  12. Mengidentifikasi faktor-faktor penyebab terjadinya El Nino dan La Nina.
  13. Membuat kliping tentang pemanasan global, El Nino, dan La Nina.
Adapun kerangka dasar dari bahan ajar cetak ini meliputi:
  • Kepala tulisan yang berisi indentitas matapelajaran, identitas sekolah, dan tahun pembelajaran.
  • Kelas/jurusan, semester, alokasi waktu, standar kompetensi, kompetensi dasar, dan jenis tagihan.
  • Indikator
  • Isi pokok yang meliputi: ringkasan isi materi, petunjuk dan materi penugasan, serta sumber.
Isi selengkapnya dapat disimak dengan mengklik:

Unduh

Jumat, 29 April 2011

AWAN SIROKUMULUS DAN GANGGUAN IKLIM

Gambar di samping merupakan rekaman fenomena cuaca yang berupa fenomena kenampakan awan sirokumulus (cirrocumulus) di Malang Selatan pada akhir Maret 2011. Menurut klasifikasi awan berdasarkan ketinggiannya, awan sirokumulus termasuk jenis awan tinggi, yakni awan yang terletak di ketinggian antara 6.000m--12.000m. Menurut morfologinya, awan ini termasuk gabungan dari awan sirus (awan halus berserat seperti bulu burung) dan awan kumulus (awan yang bergumpal-gumpal). Sedangkan berdasarkan materinya, tergolong awan yang tersusun dari materi kristal es karena di atas ketinggian 4.500m temperatur udara turun di bawah titik beku (ketinggian 4.500m suhu 0 derajat Celsius), sehingga air yang ada dalam awan menjadi beku. Bersama awan sirostratus dan awan sirus, awan sirokumulus sering diindikasikan dengan cuaca cerah. Lantaran keadaan itu, Bulan perbani nampak bersinar cerah (lihat gambar, walau hanya berukuran kecil).

Keadaan cerah tersebut berlangsung sekitar dua hari. Hal demikian sempat membuat gundah seorang petani yang kala itu sedang menanam jagung. Dia sempat bertanya, apakah keadaan seperti ini terus berlangsung? Artinya sudah memasuki musim kemarau. Terlebih ketika itu juga didengar pula kemunculan suara serangga yang nama lokalnya 'gareng atau garengpung'. Perlu diketahui, orang Jawa memiliki patokan tertentu untuk memprediksi datangnya suatu musim. Misalnya untuk musim kemarau, tanda-tanda yang sering dipakai oleh orang Jawa adalah munculnya fenomena awan tinggi, munculnya suara serangga yang disebut di atas, dan munculnya bunga pada beberapa jenis tumbuhan tertentu, yakni munculnya bungai turi, randhu, dan dhadhap.

Fenomena tersebut sekilas nampaknya seperti yang disampaikan oleh Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pusat dalam sebuah acara televisi. Dalam acara tersebut beliau mengatakan bahwa sebagian wilayah Indonesia akan memasuki musim kemarau pada bulan Maret dan sebagian yang lain pada bulan April. Hal ini juga beralasan karena pada tanggal 21 Maret, gerakan semu tahunan Matahari berada tepat di atas khatulistiwa yang selanjutnya bergerak ke utara menuju 23,5 derajat Lintang Utara. Namun realitanya tidak demikian. Sampai akhir April ini hujan deras terus berlangsung di Indonesia. Bahkan di beberapa daerah hingga terjadi banjir dan dan tanah longsor. Ketidaklaziman ini apakah masih terkait dengan gangguan iklim yang terkait dengan gejala La Nina di Indonesia?

Minggu, 11 Juli 2010

BERANJAK MENUJU KULMINASI BAWAH

Allahu akbar. Inilah fenomena alam yang rutin terjadi saban hari, namun tak setiap insan mencermatinya. Peristiwa cuaca ini berkaitan dengan gerakan semu harian Matahari.

Setelah sesiangan Matahari bergeser mulai dari ufuk timur ketika pagi hari, di titik zenit ketika kulminasi atas, kini giliran Mentari beranjak menuju ke titik kulminasi bawah.

Untuk mencapai titik kulminasi bawah, Matahari harus melampaui cakrawala yang terletak di sebelah barat. Peristiwa yang demikian sering disebut dengan Matahari terbenam. Peristiwa itu biasanya ditandai dengan semakin dekatnya Matahari dengan horison. Akibat dari gejala ini, biasanya langit akan menjadi memerah. Inilah fenomena yang menakjubkan.

Detik-detik pergantian siang menuju malam ini saya abadikan di tepian luar waduk Saradan Kabupaten Madiun yang waduk itu sendiri dikelilingi oleh hutan jati milik Perhutani KPH Madiun. Peristiwa itu sendiri saya abadikan pada senja hari Selasa, 6 Juli 2010. Selengkapnya cermati saja kesembilan foto ini.






Senin, 17 Mei 2010

LA NINA?

Mulai Jum'at, 14 Mei 2010 hingga Minggu, 16 Mei 2010 lalu saya benar-benar tidak bisa melakukan posting lantaran cuaca tidak mendukung. Awan tebal, hujan, dan kadang-kadang disertai petir terjadi nyaris saban hari hingga 17 Mei ini. Bahkan bisa dikatakan tiada hari tanpa hujan. Sementara beberapa daerah di Indonesia ada yang mengalami banjir. Bahkan ada yang mengalami banjir bandang dan tanah longsor.

Secara teoritis mulai bulan April lalu, wilayah Indonesia pada umumnya sudah memasuki musim kemarau. Ketika itu gerakan semu tahunan sudah beranjak meninggalkan khatulistiwa. Apakah curah hujan yang meninggi pada bulan April dan Mei ini akibat adanya gangguan iklim yang disebut La Nina?

Menurut Bambang Nianto Mulyo dan Purwadi Suhandini (2004:113) bahwa La Nina adalah gangguan iklim yang terjadi lantaran kembalinya perjalanan air laut yang panas dari pantai Peru dan Ekuador ke arah barat yang akhirnya sampai ke wilayah Indonesia. Akibatnya, wilayah Indonesia akan berubah menjadi daerah bertekanan rendah (minimum) dan semua angin di sekitar Pasifik Selatan maupun samudra Hindia akan bergerak menuju Indonesia. Angin tersebut banyak membawa uap air sehingga sering terjadi hujan lebat di Indonesia. Hujan lebat inilah yang sering melantarkan banjir, juga tanah longsor. La Nina itu sendiri tidak bisa terpisahkan dengan dua gangguan iklim lainnya, yakni El Nino dan efek rumah kaca--pemanasan global (global warming).

Pastinya saya mencatat bahwa telah terjadi penyimpangan musim di sekitar tempat tinggal saya. Bulan September tahun lalu terjadi peningkatan jumlah curah hujan yang luar biasa. Bulan yang lazimnya merupakan bulan terkering di Indonesia, berubah menjadi bulan yang sering terjadi hujan. Sebaliknya pada bulan Desember 2009, Januari hingga Pebruari 2010 yang seharusnya menjadi puncaknya musim penghujan, justru hujan turun tak menentu. Temperatur udara pada bulan-bulan itu, bahkan hingga kini menunjukkan peningkatan. Hari-hari terasa panas. Suhu udara bisa mencapai 29 derajat Celcius. Padahal daerah saya yang berketinggian +320m (320m di atas permukaan laut) suhu rata-rata hariannya pada saat normal hanya 25,08derajat Celcius. Saat ini, seiring bergesernya Matahari ke belahan Bumi utara ternya suhu tersebut belum mengalami penurunan yang signifikan.

Mengingat hal itu maka saya berkesimpulan bahwa terbukti, telah terjadi perubahan iklim global seperti yang banyak dibicarakan oleh para ahli Meteorologi dan Klimatologi. Walaupun begitu saya tetap meyakini bahwa hujan merupakan rahmat bagi semesta alam dari Allah SWT.

Minggu, 25 April 2010

CUACA DAN IKLIM

Cuaca dan iklim merupakan kajian Geografi yang diberikan pada siswa kelas X semester 2 (dua) dengan alokasi waktu 6 x 45menit. Standar kompetensi: 3. Menganalisis unsur-unsur geosfer, Kompetensi Dasar: Menganalisis atmosfer dan dampaknya terhadap kehidupan di muka Bumi. Materi yang terpaksa harus diunduh ini saya peroleh ketika Diklat MGMP Geografi SMA Tingkat Jawa Timur Tahun 2006 di Malang menjelang peluncuran Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Penyusun dan pematerinya adalah Drs. M. Ainur Rafiq, M.A., widyaiswara dari P4TK (dulu P3G IPS dan PMP) Malang. Isinya sangat bagus dan ditulis dengan menggunakan Microsolf Office PowerPoint. Bila pembaca berminat, silahkan klik:

Download

Minggu, 21 Februari 2010

Lain di Indonesia, Lain di Jepang




Ketika di Indonesia saat ini musim penghujan, di Jepang yang katanya saudara tua kita itu (dalam Sejarah) sedang musim salju. Ya, memang beda antara iklim di Indonesia dengan di Jepang walau keduanya sama-sama negara kepulauan di Asia. Sebagian orang Indonesia mungkin mengira bahwa di Asia pada umumnya dan di Jepang khususnya, tidak ada salju. Salju dikira hanya ada di Eropa atau Amerika Utara saja. Namun hal itu tidak berlaku bagi orang Indonesia yang pernah menginjakkan kakinya di sana, sering nonton televisi pemerintah Jepang, NHK. NHK Wolrd sering menayangkan tentan musim di Jepang dalam acara Four Seasons in Japan, atau paling tidak pernah belajar Geografi yang berkaitan dengan iklim.

Satu faktor utama yang membedakannya adalah perbedaan panas Matahari yang diterima oleh permukaan Bumi akibat letak lintang yang berbeda dan lamanya penyinaran. Dengan demikian letak atau kedudukan Matahari dilihat dari permukaan Bumi sangat berpengaruh terhadap perbedaan iklim yang sekaligus juga musimnya.

Berdasarkan letak astronomisnya (garis lintangnya saja), Indonesia terletak antara 6°LU—11°LS. Akibatnya Indonesia intensif menerima penyinaran Matahari, sehingga Indonesia beriklim tropis (panas). Sedang Jepang terletak antara 30°LU—50°LU. Letak Jepang yang demikian ini pemanasan dan lamanya penyinaran dari Matahari lebih sedikit dibanding Indonesia. Musim di Indonesia hanya dua, yaitu musim penghujan dan musim kemarau. Musim penghujan di Indonesia bertepatan dengan musim panas, sedang musim kemarau di Indonesia bertepatan dengan musim dingin, walau musim dingin di Indonesia tidak sedingin di negara-negara yang memiliki empat musim, termasuk Jepang. Jepang, utamanya Jepang tengah sampai Jepang utara memiliki empat musim. Empat musim tersebut adalah musim bunga/musim semi, musim panas, musim gugur, dan musim dingin. Mengapa demikian? Gerak semu tahunan Matahari hanya bergeser dari 0°L (garis khatulistiwa/ekuator) tanggal 21 Maret ke utara paling jauh sampai pada 23,5°LU (garis balik utara/tropic of Cancer/lintang kuda) pada tanggal 21 Juni. Setelah itu gerakan semu tahunan Matahari bergeser kembali ke selatan. Sampai di garis khatulistiwa kembali tanggal 23 September. Setelah itu Matahari bergeser ke selatan sampai titik terjauhnya, 23,5°LS (garis balik selatan/tropic of Carpricorn) pada tanggal 22 Desember (perhatikan gambar peredaran semu tahunan Matahari).

Ketika gerak semu tahunan Matahari tepat di atas 23,5°LS (garis balik selatan) pada tanggal 22 Desember, belahan Bumi selatan menerima pemanasan Matahari yang sangat intensif. Saat itulah daerah-daerah di belah Bumi selatan mengalami musim panas hingga tanggal 21 Maret, bertepatan dengan gerakan semu tahunan Matahari tepat berada di khatulistiwa. Sedang di belahan Bumi utara, termasuk Jepang mengalami musim dingin. Lama waktu masing-masing musim tersebut tiga bulan. Indonesia sebagai negara yang memperoleh pemanasan Matahari sepanjang tahun, mengalami musim panas yang juga bertepatan dengan musim penghujan berlangsung selama enam bulan, yakni mulai bulan Oktober sampai April. Hanya, mulai 22 Desember--21 Maret suhu udara di Indonesia menjadi lebih tinggi mengingat pemanasan udara dari Matahari sangat kuat. Suhu udara yang tinggi melantarakan penguapan yang tinggi. Mengingat wilayah Indonesia yang 70%-nya berupa laut, maka penguapan air laut ini, ditambah penguapan dari bentang perairan darat (sungai, danau, rawa) dan dari penguapan organisme berkondensasi ketika berada di troposfer atas hingga terbentuklah awan. Awan yang ada ditambah lagi dari bawaan angin muson barat, sehingga Indonesia ketika mengalami puncaknya musim hujan. Terutama pada bulan Desember, Januari, dan Pebruari. Saat Indonesia mengalami puncaknya musim penghujan, di Jepang yang juga negara kepulauan sedang mengalami musim dingin. Kiriman foto via face book alumnus SMAPa menggambarkan keadaan hal itu. Semua memutih diliputi salju. Gunung diliputi salju, jalanan diliputi salju, lingkungan permukiman diliputi salju. Semuanya memutih diliputi salju. Hanya konifer (tumbuhan berdaun jarum) yang tetap menghijau dan tak pernah menggugurkan daunnya. Bagi orang Indonesia umumnya, suguhan itu sangat menarik. Salju di Indonesia hanya ditemukan di puncak-puncak pegunungan tinggi di pegunungan Jajawijaya, Papua. Foto-foto tersebut diambil ketika alumnus SMAPa yang bekerja di Jepang tersebut sedang berekreasi di Nagano, sebuah kota kecil berpegunungan di Jepang tengah, berjarak lurus lebih kurang 170km arah barat laut Tokyo. Secara astronomis Nagano terletak 37 derajat 1'52"LU.






Rabu, 20 Januari 2010

Pemanasan Global (Global Warming)

"Kacau balau", itulah kesan yang muncul ketika mencermati keadaan musim saat ini. Ketika bulan September 2009 lalu, yang kata orang Jawa kasep-kasepe sumber (sedikit sekali mataair yang masih mengalirkan air) justru di Malang Selatan, khususnya di Sumbermanjingkulon dan sekitarnya hujan turun hampir setiap hari. Dalam Meteorologi dan Klimatologi, bulan September itu dikenal sebagai puncaknya musim kemarau di Indonesia, khususnya di Jawa. Bulan itu merupakan bulan terkering. Namun realitanya frekuensi hujan jauh lebih tinggi dari bulan Oktober yang sebenarnya sudah masuk musim penghujan. Juga ketika bulan Nopember dan Desember. Orang Jawa yang suka ngotak-atik istilah, Desember sering disebut deres-deresing sumber (deras-derasnya sumber). Nyatanya juga tidak. Demikian pula bulan Januari yang juga sering diistilahkan dengan hujan sehari-hari, tetapi kenyataannya belum tentu saban hari terjadi hujan. Kalaupun terjadi hujan, sering tidak lebat di suatu tempat, tetapi di tempat lain bisa sangat lebat, bahkan disertai angin ribut hingga melantarka genangan air/banjir dan sebagainya, dan di tempat yang lainnya lagi bisa tidak hujan sama sekali. Padahal fenomena yang lazim terjadi di Indonesia, bulan Desember dan bulan Januari memiliki curah hujan tertinggi pada satu periode musim penghujan. Itulah perubahan musim yang mempengaruhi pola tanam petani. Petani merasa terombang-ambing lantaran gejala ini. Mereka bingung. Mau menanam padi takut nanti mati lantaran kekurangan air. Mau menanam palawija takut nanti terendam air. Ini memang hanya berlaku pada lahan persawahan tadah hujan. Iklim memang benar-benar berubah dan mengglobal. Apa yang melantarkan terjadinya fenomena ini?

Berikut ini saya cantumkan materi Global Warming yang disajikan oleh Dr. Sugeng Utaya, M.Si, dosen Universitas Negeri Malang (UM) dalam bentuk presentasi dengan menggunakan Microsolf Office Powerpoint ketika beliu mengisi forum ilmiah yang digelar oleh OSIS SMA Negeri 1 Pagak Tahun Pembelajaran 2007/2008 lalu. Pembaca yang berminat bisa mengunduh secara gratis dengan mengklik di bawah ini:

download