Powered By Blogger
Tampilkan postingan dengan label Litosfer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Litosfer. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Februari 2012

GEOMORFOLOGI (Makalah Diklat Geografi SMA Tk. Dasar di P4TK 2011)

Makalah yang berjudul "Geomorfolofi" ini juga disampaikan oleh Dr. Sudarno Herlambang pada Diklat Geografi SMA Tingkat Dasar yang diselenggarakan oleh P4TK IPS dan PKn Malang di mBatu, September 2011 lalu. Materi yang disampaikan pada guru Geografi sebanyak 50orang dari berbagai daerah di Indonesia ini membahas tentang konsep dasar Geomorfologi, struktur dan stadia, proses dan gaya;  bentuk lahan asal proses struktural, asal proses vulkanik,  asal proses denudasional, asal proses fluvial, asal proses solusional, asal proses marin, asal proses eolian, dan asal proses glasial. Posting materi Geomorfologi dan juga Geologi pada posting sebelumnya merupakan upaya melaksanakan pengimbasan pada program tindak lanjut yang disepakati antara pihak P4TK dengan peserta. Isi selengkapnya dapat disimak dengan mengklik:
Unduh

GEOLOGI (Makalah Diklat Geografi Tk. Dasar P4TK, 2011)

Materi ini merupakan merupakan bagian dari materi Diklat Geografi yang disajikan oleh Dr. Sudarno Herlambang, dosen Geologi Universitas Negeri Malang pada September 2011 lalu. Makalah ini hanya memuat garis besar dari paparan beliau tentang Geologi. Garis besar materi yang disajikan meliputi pengertian, cabang-cabang, dan istilah-istilah yang berkaitan dengan Geologi. Di samping itu disajikan pula asal mula Bumi, materi Bumi, batuan,  dan proses geologi. Isi selengkapnya dapat dicermati dengan mengklik:
Unduh

Jumat, 17 Februari 2012

GUNUNG BUTAK--KAWI DAN KELUD

Gunung Butak (2.868m) dan gunung Kawi (2.681m) merupakan kelompok gunung berapi yang berada di sebelah barat Kabupaten Malang. Kelompok gunung tersebut merupakan batas alam antara Kabupaten Malang dengan Kabupaten mBlitar dengan bagian terluasnya masuk Kabupaten Malang. Kecamatan-kecamatan yang berada pada kompleks gunung tersebut antara lain Kecamatan Ngajum dan Wonosari di lereng selatan, Kecamatan Paksaji di lereng tenggara, Kecamatan Wagir di lereng Timur, Kecamatan nDau di lereng timur laut, dan Kecamatan Pujon di lereng utara. Nampak pada gambar, kedua gunung tersebut seolah-olah hanya ada satu gunung. Namun ternyata gunung tersebut memiliki dua puncak gunung dengan nama yang berbeda. Menurut I Made Sandy (1982:29) bahwa puncak bagian selatan (nampak pada gambar di sebelah kiri) adalah gunung Butak, sedang puncak bagian utara agak ke arah barat laut (nampak pada gambar di sebelah kanan) adalah gunung Kawi. Sampai saat ini, kedua gunung tersebut termasuk jenis gunung api istirahat karena tidak menunjukkan gejala-gejala aktifitas vulkanisme, berbeda dengan gunung Kelud yang ada di sebelah baratnya. Kali Metro, Lekso, Bambang, dan Konto yang merupakan anak-anak sungai dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas berhulu di gunung Butak--Kawi tersebut.
Kelompok gunung Butak--Kawi, juga gunung Kelud yang ada di sebelah baratnya menurut R.W. Van Bemmelen (1948:571), "Gunung Butak, Kawi, dan Kelud adalah kelompok gunung berapi dengan struktur muda, terutama terbentuk pada masa Holosen, menutupi struktur vulkanik yang lebih tua (masa Plistosen atas), mengubur juga sebagian terbing curam pegunungan selatan".

Keterangan gambar:

  • Gambar atas: Kompleks gunung Butak--Kawi dari tepian waduk Karangkates (selatan gunung Butak--Kawi).
  • Gambar bawah: Gunung Kelud yang morfologinya tidak pernah berbentuk kerucut sempurna dari tepian waduk Karangkates (tenggara gunung Kelud).


Sumber:
1. Sandy, I Made. 1982. Atlas Indonesia. Jakarta: Dasawarna.
2. Van Bemmelen, R.W. 1948. The Geology of Indonesia vol. IA General Geology of Indonesia and Adjacent Archipelagoes. Batavia: 1948.

Selasa, 23 Agustus 2011

KOMPLEKS GUNUNG API TENGGER--SEMERU

Kompleks gunung api Tengger--Semeru berada di bagian timur Kabupaten Malang. Tengger merupakan pegunungan berkaldera dengan satu anak gunung yang masih sangat aktif, gunung Bromo (2.392m). Akhir 2010 hingga Mei 2011 yang baru lalu menunjukkan aktifitas vulkanismenya. Sedang gunung Semeru (3.676m) merupakan gunung tertinggi di pulau Jawa yang masih sangat aktif. Semeru itu sendiri merupakan salah satu gunung tipe strato dengan bentuk kerucut yang nyaris sempurna. Sebagian dari Kompleks pegunungan Tengger--gunung Semeru menjadi bagian dari Kabupaten Malang, sedang bagian yang lain masuk wilayah Kabupaten Pasuruan di sebelah utara, Kabupaten Probolinggo di bagian timur laut, dan Kabupaten Lumajang di bagian timur. Pegunungan Tengger dan sebagian gunung semeru merupakan kediaman penduduk subsuku bangsa Tengger, bagian dari suku bangsa Jawa. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa dialek Tengger. Sistem matapencaharian mereka bertani dengan tanaman sayuran pegunungan yang berketinggian lebih dari 2.000m di atas permukaan laut. Tanah pertaniannya subur mengingat berada di kompeks gunung berapi.

Geologis kompleks gunung apai Tengger--Semeru Menurut Van Bemmelen (1948:550-552) dengan terjemahan bebas sebagai berikut:
"Kompleks Tengger Semeru juga terdiri dari beberapa lapisan tua (? Pleistosen atas) dari struktur dan kerucut vulkanik muda (Holosen).

Suksesi berikut dapat berasal dari fitur morfologi: Puncak Jembangan adalah bagian yang lebih tua; kemudian diikuti yang lebih tua dan lebih muda gunung berapi Tengger dan, akhirnya, Semeru aktif (3,676 m, puncak tertinggi Jawa).

Pusat letusan tidak mengelompokkan di poros timur-barat dari geantiklin Jawa, tapi sepanjang jalur utara-selatan, sedikit cekung di Timur. Pada jalur ini adalah juga terletak pusat letusan muda dari maar Grati dan Semongkrong (? kerucut tuff) di pantai utara. Jalur utara-selatan ini mungkin mewakili sesar melintang atau tanah bongkok (fleksur) di geantiklin Jawa, dan membentuk batas barat bagian dari gunung Lamongan yang tertekan. Itu adalah gambar terbalik keretakan melalui kompleks Iyang, pada jarak sekitar 70 km lebih jauh ke timur, di sisi timur depresi Lamongan. Bagian amblasnya geantiklinal diwujudkan oleh tidak adanya pegunungan Selatan di bagian ini.

Seperti depresi berdampingan dengan sesar melintang dalam struktur geantiklinal busur dalam yang bersifar vulkanis juga merupakan respon pada gangguan genatiklin Jawa ke arah timur di Kepulauan Sunda kecil: misalnya, pembentukan selat Bali, dan selat-selat yang memisahkan pulau-pulau ini, secara skematis diperhitungkan dalam bagian longitudinal.

Keterangan gambar:
1. Deposit alluvial pantai berpasir sepanjang pantai
selatan.
2. Deposit alluvial di Pegunungan Selatan.
3. Aliran lava tahun 1885, 1895, dan 1941.
4. Aliran lava dan deposit lahar dari pusat-pusat erupsi gunung api parasiter (ranu Pakis, gunung Papak, gunung Totoganmalang, gunung Leker, ranu Darungan).
5. Bagian baru dari aliran lava antara gunung Semeru dan gunung Kepolo.
6. Pusat kerucut Semeru (andesit).
7. Kaki bagian selatan dari kerucut Semeru (basal).
8. Kaki tenggara kerucut Semeru (basal dan subordinat dari andesit).
9. Gunung api Kepolo di dalam kaldera Jembangan.
10. Pusat-pusat erupsi kecil di dalam kaldera Ajek-ajek, dan sebelah utara darinya (dekat ranu Pani, dan ranu Kumbolo.
11. Mantel dari gunung api Jembangan--Ayek-ayek (bagian tertua dari kompleks Tengger-Semeru).
12. Kaki sebelah baratdaya dan tenggara dari gunung api Tengger.
13. Bagian bawah tanah dari gunung api Tengger (lebih tua dari 11 dan lebih muda dari 12).
14. Formasi andesit tua dari bagian selatan pegunungan (miosen tua).
15. Kaldera, lingkar kawah, dan pusat dari erupsi.

Selain sesar melintang ini atau fleksur di ruang bawah tanah yang kompleks mendominasi grup Tengger sebagai keseluruhan, kerucut Tengger tepat fitur khas tektonik gunung berapi yang lain. Seperti yang ditunjukkan oleh penulis (1937 e), gunung berapi Tengger lama telah terbagi terbelah sepanjang celah bersifat melengkung besar, 47 km panjang dan cekung di utara. Sepanjang celah ini bagian utara kerucut mereda dan meluncur ke utara. Ini pecah di atap bawah dapur magma yang menyebabkan arus perpindahan sejumlah besar lava, yang menyebar seperti delta ke tanjung di kedua ujung keretakan. Bencana ini mungkin disebabkan tertenelannya bagian atas kerucut, sehingga lautpasir terbentuk. Runtuhnya Tengger adalah hasil dari besar material vulkanik yang berat, mengumpul di ruang bawah tanah yang lebih atau kurang plastik dari sedimen laut tersier. Bagian utara gunung Tengger meluncur ke utara, mereda ke arah geosinklin Selat Madura. Kubah atas Semongkrong mungkin efek komplementer dari kompresi di kaki utara Tengger".

Sumber:
Van Bemmelen, R.W. 1948. The Geology of Indonesia Vol. IA General Geology of Indonesia and Adjacent Archipelagoes. Batavia

Media penterjemahan:
Bing translator dengan penyesuaian penulis.

Senin, 15 Agustus 2011

ARCH TANAH LOT

Arch adalah bentukan hasil abrasi tingkat lanjut dari gua-gua pantai, berupa saling terhubungnya sisi gua yang satu dengan sisi gua lainnya, sehingga membentuk lorong gua dengan dua gerbang. Panjang lorong gua ini sangat bervariasi. Hal ini dipengaruhi oleh jarak kedua gua yang saling bertemu, tingkat kekuatan abrasi, dan tingkat kekuatan batuan penyusun klif terhadap gerusan ombak.

Gambar yang tertera pada posting ini juga diambil di Tanah Lot, Bali, seperti pada posting sebelumnya. Memang letak arch ini bersebelahan dengan gua pantai tersebut. Posisi arch ini sejajar dengan garis pantai yang ada. Jarak arch ini terhadap garis pantai ketika terjadi pasang surut sekitar 150m. Lebar gerbang arch sekitar 7m, sedang lebar bagian dalam lebih dari itu. Mungkin sekitar 15m, dengan tinggi sekitar 5m. Dasar arch juga merupakan jalur keluar dan masuknya gelombang yang sekaligus sebagai tempat penimbunan material hasil abrasi. Material hasil abrasi yang terakumulasi di sepanjang dasar arch tersebut berupa lumpur bercampur pasir halus.

Minggu, 14 Agustus 2011

GUA PANTAI DI TANAH LOT

Inilah bentuk gua pantai yang terbentuk di dasar pantai klif di Tanah Lot, Bali. Abrasi yang sangat kuat dan terus menerus dari gelombang lautan selatan (samuderan Indonesia/Hindia) ketika pasang naik pada dasar klif menghasilkan bentukan yang berupa gua-gua pantai. Batuan induk penyusun pantai klif itu adalah batuan yang bersifat vulkanik. Batuan penyusun itu umumnya berasal dari batuan beku luar, baik yang berupa eflata otogen maupun eflata alogen. Material vulkanik tersusun bertumpuk-tumpuk hingga tersementasi dan mengalami pemadatan. Walaupun demikian batuan kokoh tegak berdiri itu pun akhirnya sedikit-demi sedikit tergerus hingga membentuk lubang di bagian bawah klif. Lubang itulah yang kemudian disebut dengan gua-gua pantai.

Gua-gua pantai ini tidak jarang sebagai tempat berlindung biota-biota laut seperti ular laut dan kepiting. Biasanya ular-ular laut dan kepiting tersebut masuk gua tersebut bersamaan dengan terjadinya pasang naik yang kemudian masuk pada lorong gua.


Jumat, 12 Agustus 2011

GUNUNG ARJUNO

Namanya mengingatkan pada seorang tokoh pewayangan dari keluarga Pandhawa. Dia adalah anak ketiga (penengah) dari lima bersaudara, keturunan raja Pandhu Dewanata. Arjuna (baca: Arjuno) digambarkan sebagai seorang ksatria tampan yang berpenampilan lemah-lembut, sehingga banyak wanita yang mabuk kepayang kepadanya. Ksatria ini sangat mahir memanah. Senjata andalannya sebuah panah yang disebut panah Pasopati. Dia sering berpasangan dengan saudara misannya, raja nDwarawati, Kresna namanya yang juga punya panah andalan bernama Cakra. Lantas pertanyaannya, apakah nama gunung yang gambarnya tertera di atas ada hubungannya dengan tokoh pewayangan tersebut? Wallahu a'lam.

Jelasnya gunung Arjuno (3.239m) merupakan sebuah gunung berapi yang saat ini berada pada fase dorman bersama gunung yang satu rangkaiannya di sebelah barat lautnya, gunung Welirang (3.156m). Fase dorman adalah fase tidak aktifnya gunung Arjuno dan gunung Welirang dari kegiatan vulkanisme. Kedua gunung tersebut sudah tidak lagi menunjukkan letusan-letusan dan sejenisnya. Justru nampaknya sudah mengarah pada gejala-gejala pos vulkanismus, yakni gejala-gejala yang mengarah akan matinya aktifitas kegunungapian dari sebuah gunung. Ini dapat diidentifikasi dengan keluarnya gas belerang (solfatar) pada kawah utama dan berbagai celah di gunung Welirang. Sedang pada gunung Arjuno sendiri kabarnya pernah ada penelitian tentang panas Bumi (geothermal) yang dilakukan oleh tim dari Selandia Baru. Konon bila memungkinkan akan dimanfaatkan untuk pembangkit listrik tenaga geothermal. Namun rupanya tidak ada tindak lanjutnya. Mungkin bila diusahakan tidak ekonomis.

Gunung Arjuno, juga gunung Welirang terletak di sebelah barat laut Kota Malang yang menjadi batas alam antara Kabupaten Malang dengan Kabupaten Pasuruan di bagian utara. Di samping itu juga menjadi batas wilayah antara Kabupaten Malang dengan wilayah pemekarannya, Kota mBatu di sebelah utara agak ke barat laut. Sebagai vulkan tentu gunung Arjuno memiliki tanah yang subur. Didukung ketinggiannya, gunung ini memiliki variasi iklim lokal yang graduatif, sehingga juga memiliki variasi vegetasi yang beragam. Terlebih kaki gunungnya yang sebelah utara berhadapan langsung dengan dataran pantai selat Madura. Jarak terdekatnya hanya sekitar 12km. Daerah zona panasnya banyak dibudiyakan tanaman padi, jagung, kelapa, kopi, dan yang khas adalah tanaman randu. Tanaman randu ini terutama banyak diusahakan penduduk di daerah Sukorame, Purworejo, dan Purwodadi Kabupaten Pasuruan. Kapuk dari buah randu banyak dimanfaatkan penduduk setempat sebagai bahan baku industri kerajinan kasur, bantal, dan sejenisnya. Daerah yang masuk zona sedang di wilayah kecamatan Lawang Kabupaten Malang ditemukan adanya perkebunan teh. Sedangkan hutan yang mendominasi bagian gunung Arjuno yang berketinggian antara 1.500m--2.500m didominasi oleh tumbuhan berdaun jarum. Pinus dan cemara merupakan merupakan vegetasi yang mudah ditemukan. Bagian atas gunung Arjuno yang berketinggian di atas 2.500m sampai 3239m didominasi oleh padang rumput yang diselingi semak-belukar kerdil. Menurut pembagian iklim Koppen, puncak gunung Arjuno ini termasuk bertipe iklim Cw, yakni iklim hujan sedang (mesothermal humid) dengan musim dingin (winter) yang kering. Perlu diketahui di lereng gunung Arjuno yang bersambung ke gunung Welirang, bahkan juga ke gunung Penanggungan terdapat Cagar Alam "Lalijiwo". Sedang di kaki bagian timur terdapat Kebun Raya Purwodadi yang menyimpan aneka ragam vegetasi tropis. Di samping itu, terdapat pula taman safari yang terletak di Kecamatan Prigen Kabupaten Pasuruan.

Menurut R.W. Van Bemmelen (1948:570--571) bahwa gunung Arjuno merupakan gunung berapi yang masuk dalam kompleks gunung berapi Anjasmoro-Arjuno-Kelut-Kawi-Kawi-Butak. Deskripsinya dalam terjemahan bahasa Indonesia sebagai berikut:
Gunung Anjasmoro adalah bagian tertua dari kompleks gunung berapi di zona Solo. Kaki gunung kelompok ini membentuk lapisan Jombang dari zona Kendeng. Duyfjes (1938, halaman 55) berpendapat bahwa lapisan Jombang terbentuk pada Pleistosen Tengah teratas. Namun, tidak ada alasan bersifat koersi (memaksa) untuk berumur era Pleistosen tengah; sebagaimana mereka berhasil secara pasti bahwa lapisan Kabuh berumur pleistosen tengah kita mengutamakan untuk menganggap mereka, sementara itu, sebagai Pleistosen Atas, seperti breksi Notopuro yang lebih jauh di Barat.

Blok gunung berapi Anjasmoro rusak tidak teratur dan secara bersamaan terjadi lipatan tidak keras dari lapisan Jombang berlangsung di delta Brantas (antiklinal-antiklinal Jombang, Pojok, Watudakon, Sekarputih, Kedungwaruh dalam lembar 110 (Mojokerto) dan 116 (Sidoarjo); Duyfjes, 1938 c & d).

Tidak ada studi rinci telah membuat hubungan antara blok sesar ini pada satu sisi (ketegangan gerakan) dan lipatan di lain (kompresi gerakan); tetapi hubungan mereka saling sebagai pelengkap efek gravitasi tektogenesis tampaknya cukup memungkinkan.

Berikutnya dalam usia yang lebih tua dari Gunung Arjuno; puncak Arjuno tua ini mungkin adalah gunung Ringgit.

Bagian tertinggi dari gunung berapi Ringgit ini meluncur ke utara, membentuk lipatan di kakinya, Bangil-Raci antiklinal. Sebagian Gawir sesar meluncur terkena di punggungan Alas.

Tentang keruntuhan Arjuno kelompok penulis 1937 c, hal. 164) mengatakan:
"Gunung ini adalah dibangun di perbatasan selatan geosinkline Utara Jawa, dimana geosinklin ini dilewatkan ke dalam geantiklin bagian selatan pulau Jawa. Gunung ini, oleh karena itu, beristirahat di atas laut, dan sedimen neogen terdiri atas empat lebih tua dari geosinklin ini, yang dengan cepat meningkat dalam ketebalan di utara. Pada pra-miosen awal permukaan di bawah gunung ini memiliki inklinasi kuat ke utara atau bahkan tanah bungkuk (fleksur) yang rata.

Tanpa memperhatikan badan ini buruk, gerakan vulkanik yang dibangun gunung berapi, meningkatkan beban pada badan yang plastis. Bagian utara terpecah sepanjang celah sesar yang bersifat melengkung dan meluncur ke bagian-bagian yang lebih dalam dari geosinklin di utara. Sepanjang retakan ini aktifitas vulkanik diteruskan, membangun kerucut muda kelompok Arjuno-Welirang, yang saat ini, sebagian balur yang mendasari zona retakan.

Di kaki utara gunung longsor ke utara ini menyebabkan kompresi dari lapisan geosinklinal, yang menjelaskan asal-usul antiklin Bangil. Antiklin ini lebih muda dari breksi-breksi Arjuno tua dan lebih tua dari yang lebih muda. Dengan demikian, pemberian tekanan yang bertepatan dengan ketegangan patahan kelompok Arjuno di selatan itu.

Asal-usul serentak ini menunjukkan hubungan genetik antara kompresi (lipatan) di utara geosinklinal dataran rendah dan ketegangan patahan yang tergelincir di selatan dataran tinggi vulkanik. Demikian sesuai proses tektonik serempak sebagai ekspresi yang melengkapi berkaitan dengan gravitasi tektogenesis".

Di ujung barat antiklin ini gunung berapi muda berukuran kecil Penanggungan terbentuk (dijelaskan oleh Kuenen 1935 b, dan d Duyfjes 1938). Gunung ini mungkin berhubungan dengan sesar melintang ke utara yang meluaskan lengan lengkung dari sesar Alas, membatasi antiklin Bangil ke barat. Dalam hal ini posisinya sebanding dengan gunung berapi Baluran di timurlaut yang memperpanjang lengan keretakan lengkungan besar melalui gunung tua Ijen, ditandai dengan gunung Raung-Merapi dari barisan gunung berapi.

Dengan antiklin Bangil-Raci dimulai serangkaian fitur kompresi yang terbentuk pada akhir Plestosen sepanjang pantai utara timur Jawa (misalnya struktur Ringgit-Beser).

Kelut, Kawi, Butak adalah kelompok gunung yang strukturnya lebih muda, terutama masa Holosen, menutupi struktur vulakanik yang lebih tua (masa pleistosen atas), mengubur juga sebagian lereng dari gunung-gunung ke arah selatan.

Saat ini, sebagaimana daerah gunung berapi yang subur, gunung Arjuno menjadi salah satu konsentrasi penduduk yang setiap tahun terus meningkat. Tidak hanya meningkat jumlah penduduknya itu sendiri, tetapi juga jumlah bangunan, serta ketinggian tempat yang dicapai untuk aktifitas mereka. Bangunan-bangunan mewah bertingkat semakin mendaki lereng curam menggeser hutan pinus yang multi fungsi itu. Selain itu, petani yang lapar lahan terus mengubah lereng tersebut menjadi lahan pertanian. Fenomena itu hampir merata di sekeliling gunung, tidak terkecuali di Kota mBatu.

Sumber:
  1. Ma'mur Tanudidjaja, Moh. dan Kartawidjaja. 1986. Penuntun Pelajaran Geografi. Bandung: Ganeca Exact.
  2. Marbun, M.A. 1982. Kamus Geografi. Jakarta Timur: Ghalia Indonesia.
  3. Nianto Mulyo, Bambang dan Suhandini, Purwadi. 2004. Kompetensi Dasar Geografi 1. Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.
  4. Sandy, I Made. 1982. Atlas Indonesia. Jakarta: P.T. Dhasawarna dan Jurusan Geografi - FPIA - UI.
  5. Van Bemmelen, R.W. 1948. The Geology of Indonesia Vol. 1A General Geology of Indonesia and Adjacent Archipelaoes. Batavia
  6. Wardiyatmoko, K. 2006. Geografi untuk SMA Kelas X. Ciracas, Jakarta: Erlangga.
  7. ----. 1993. Atlas Dunia untuk SD, SMTP & SMTA. Jakarta: Pustaka Amani.
Situs Internet:
Bing Translator

Senin, 08 Agustus 2011

ASPEK SOSIAL DARI GUNUNG BERAPI (3)

Pengantar:
Tulisan yang tertera dalam posting ini merupakan terjemahan dari buku karya R.W. Van Bemmelen, seorang tokoh yang berjasa besar dalam Geologi dan Geomorfologi, juga Geografi di Indonesia. Judul bukunya "The Geology Of Indonesia Vol. 1A General Geology Of Indonesia and Adjacent Archipelagoes", halaman 223 pada Social Aspect. Penterjemahan ini menggunakan bing translator dengan sedikit penyesuaian. Usaha penterjemahan ini dilakukan agar siswa SMA khususnya, dapat mengenali lingkungan mereka, Indonesia yang memang banyak memiliki gunung berapi. Sedang foto yang tertera pada posting ini adalah bagian dari rangkaian kompleks gunung berapi Wilis--Liman--nDwarawati dilihat dari sisi utara, yakni Kota Nganjuk. Semoga bermanfaat.


Kriteria diagnostik bahaya gunung berapi yang akan terjadi.
Berikut adalah sinopsis beberapa kriteria diagnostik yang sekarang dianggap sebagai tanda-tanda bahaya gunung berapi yang akan terjadi:
1. Meningkatnya frekuensi gempa lokal, umumnya hanya tercatat sebagai gempa-gempa kecil pada seismograf-seismograf di pos-pos pengamatan dekat kerucut gunung berapi.
2. Terbentuknya kubah vulkanik oleh tekanan magma, ditunjukkan dengan alat pengukur kemiringan.
3. Bandingan dengan siklus aktivitas gunung berapi yang bersangkutan pada masa sebelumnya.
4. Ketika lava naik di saluran, berkembang mengalir keluar selama satu siklus letusan utama atau fase gas, mungkin diiringi oleh awan pijar (letusan-letusan awan panas dari gunung berapi).
5. Kubah lava dan aliran-aliranya keluar dari bagian atas kerucut gunung berapi, sering memiliki posisi yang tidak stabil. Sebagian dari kubah lava dapat meluncur ke bawah, mengakibatkan awan pijar dan ladu (awan pijar jenis longsoran).
6. Akumulasi abu vulkanik dan puing-puing di lereng kerucut gunung berapi dapat menimbulkan aliran lahar (aliran lumpur) setelah hujan deras.
7. Perubahan tidak biasa dalam perilaku mataair panas dan solfatara di berbagai kawasan (isyarat yang tidak pernah salah, sering hanya dikaitkan dengan aktivitas freatik).
8. Gangguan-gangguan magnetik lokal (tidak cukup hanya dipelajari).
9. Suara-suara gunung berapi (tidak cukup hanya dipelajari melalui; seismograf elektromagnetik penerima suara yang digunakan di Merapi pada tahun 1943).
10. Gempa Bumi tektonik kuat dapat melepaskan letusan gunung berapi (seperti di Sumatera Selatan, 1933; kebangkitan aktivitas Merapi setelah gempa 23 Juli 1943).

Minggu, 07 Agustus 2011

ASPEK SOSIAL DARI GUNUNG BERAPI (2)

Pengantar:
Tulisan yang tertera dalam posting ini merupakan terjemahan dari buku karya R.W. Van Bemmelen, seorang tokoh yang berjasa besar dalam Geologi dan Geomorfologi, juga Geografi di Indonesia. Judul bukunya "The Geology Of Indonesia Vol. 1A General Geology Of Indonesia and Adjacent Archipelagoes", halaman 223 pada Social Aspect. Penterjemahan ini menggunakan bing translator dengan sedikit penyesuaian. Usaha penterjemahan ini dilakukan agar siswa SMA khususnya, dapat mengenali lingkungan mereka, Indonesia yang memang banyak memiliki gunung berapi. Sedang foto yang tertera pada posting ini adalah bagian dari rangkaian kompleks gunung berapi Wilis--Liman--nDwarawati dilihat dari sisi utara, yakni Kota Nganjuk. Semoga bermanfaat.

Terjemahan tersebut sebagai berikut:
Ini adalah sangat penting bahwa dalam banyak kasus siklus letusan tidak langsung datang tiba-tiba dengan perkembangan kekuatan penuh mereka. Fase pertanda tentang terjadinya letusan, berlangsung beberapa jam sampai berbulan-bulan, umumnya mendahului fase utama, cukup waktu untuk langkah-langkah pencegahan meninggalkan sektor-sektor yang terancam.

Ini sangat menarik untuk membatasi pesan evakuasi ke daerah kecil dan hanya untuk waktu pendek, untuk mencegah kekacauan terlalu banyak kondisi ekonomi lokal. Oleh karena itu, diperlukan untuk memiliki pengetahuan yang tepat dari topografi sekitarnya dan sistem drainase gunung berapi, dan pengetahuan rinci karakter sebelumnya aktivitas gunung berapi yang bersangkutan. Pengamat gunung berapi yang terlatih diperlukan untuk pekerjaan ini.

Selama letusan Merapi (Jawa Tengah) pada tahun 1930 wilayah evakuasi terlalu dibatasi, karena tidak melihat sebelumnya bahwa seluruh puncak itu akan meluncur turun, menambahkan banyak jutaan ton dari puing-puing letusan yang berupa ladu. Setelah itu sistem penjagaan Merapi sepenuhnya direorganisasi oleh survei vulkanologi.

Dari 30 Mei 1942 sampai akhir 1943 gunung ini melewati siklus letusan, yang berlangsung selama lebih dari setahun. Setelah fase kedepan dari 10 bulan siklus mencapai utama- atau fase gas pada akhir Maret 1943. Penduduk sektor Batang Atas tidak mau dievakuasi, kemudian dipaksa oleh polisi lapangan untuk dievakuasi pada tanggal 1 April 1943. Fase utama berlangsung sampai malam dari 11-12 April, memproduksi "awan panas" yang memang menyerang sektor yang dikosongkan. Setelah hanya tiga minggu evakuasi, penduduk bisa kembali ke tempat tinggal mereka dan memperbaiki kerusakannya.

Dalam banyak kasus lain petugas vulkanologi telah sebaliknya bertugas: tidak melakukan evakuasi, tapi hanya memberikan penenangan kepada yang panik, dan nasihat kepada penduduk, yang telah melarikan diri, diminta untuk kembali ke pekerjaan mereka. Pencegahan atau pembatasan dari tindakan-tindakan mahal evakuasi yang diambil oleh pihak berwenang setempat sering mengakibatkan penghematan dalam jumlah besar. Akan ekonomis jika menganggarkan biaya untuk Survei Vulkanologi permanen dengan staf yang berpengalaman.

Lahar dingin.
Hasil tidak langsung dari aktivitas vulkanik adalah ancaman yang disebabkan oleh akumulasi dari puing-puing lepas dan abu di lereng gunung berapi. Hujan dapat menyebabkan lumpur atau lahar dingin, membanjiri dataran dataran rendah di kaki gunung berapi, dan menyebabkan banyak kerusakan. Begitu banjir lahar seperti itu terjadi yang diharapkan sistem peringatan khusus diatur.

Di Merapi, sebuah pluviometer listrik segera berdering dalam pos Babadan pada setiap curah hujan sebesar 5 mm. Secara empiris telah ditentukan bahwa setelah tujuh puluh mm hujan dalam 35menit, lahar mungkin turun jika lereng ditutupi dengan abu vulkanik baru dan puing-puing batuan. Selain itu, getaran seismik khas yang terekam seismometer WIECHERT (80 kg massa) sering menunjukkan permulaan pergerakan lahar. Kemudian lewat telepon diberikan peringatan untuk stasiun kereta api dan otoritas sipil di kaki gunung yang kemungkinan akan dilalui lahar. Selain itu, selama periode berbahaya orang-orang Indonesia akan menyebarkan tanda bahaya dengan kentongan secara temporer sepanjang tebing sungai terkena aliran lumpur (lahar).

Sabtu, 06 Agustus 2011

PERLAPISAN MATERIAL HASIL ERUPSI

Inilah akumulasi material hasil erupsi gunung berapi yang membentuk lapisan batuan pada klif di pantai Tanah Lot, Kabupaten Tabanan, Bali. Abrasi lautan selatan telah menghasilkan pantai klif yang batuan induknya bersifat vulkanis. Nampak pada gambar adanya tahapan penumpukan material hasil erupsi itu. Bagian bawah yang merupakan tahap awal dari timbunan material vulkanik yang berupa lapili (kerikil vulkanik) yang bercampur dengan abu vulkanik. Timbunan ini menghasilkan breksi. Lapisan di atasnya merupakan tumpukan tuff vulkanik, kemudian breksi yang ukuran kerikil-kerikil runcingnya lebih kecil bercampur abu vulkanik. Sedangkan lapisan paling atas didominasi oleh material abu vulkanik yang di antaranya terlihat mengandung kalsium karbonat.

Material hasil erupsi yang kemudian tersedimentasi hingga membentuk batuan sedimen vulkanik tersebub jelas berasal dari aktifitas gunung berapi yang ada di bagian tengah pulau Bali. Boleh jadi material tersebut hasil muntahan dari erupsi gunung Agung, mengingat gunung tersebut merupakan gunung terbesar dan tertinggi di Bali. Tingginya 3142m di ata permukaan Laut. Gunung Agung pernah meletus hebat. Menurut catatan gunung Agung terakhir meletus pada 27 Januari 1963.

Jumat, 05 Agustus 2011

ASPEK SOSIAL DARI GUNUNG BERAPI (1)

Pengantar:
Tulisan yang tertera dalam posting ini merupakan terjemahan dari buku karya R.W. Van Bemmelen, seorang tokoh yang berjasa besar dalam Geologi dan Geomorfologi, juga Geografi di Indonesia. Judul bukunya "The Geology Of Indonesia Vol. 1A General Geology Of Indonesia and Adjacent Archipelagoes", halaman 222 pada Social Aspect. Penterjemahan ini menggunakan Google translate dengan sedikit penyesuaian. Usaha penterjemahan ini dilakukan agar siswa SMA khususnya, dapat mengenali lingkungannya, Indonesia yang banyak memiliki gunung berapi. Sedang foto yang tertera pada posting ini adalah bagian dari rangkaian kompleks gunung berapi Wilis--Liman--nDwarawati dilihat dari sisi utara, yakni Kota Nganjuk. Semoga bermanfaat.

Terjemahannya sebagai berikut:
Indonesia adalah daerah yang paling vulkanik di dunia, memiliki 149 pusat-pusat aktivitas gunung berapi. Menurut catatan statistik sejak 1800 bencana vulkanik telah terjadi sekali dalam sekitar tiga tahun. Sejak tahun itu ada sekitar 135.000 korban jiwa, ratusan desa dan ribuan hektar tanah subur dan hutan hancur. Efek dari letusan gunung berapi telah menjadi bencana karena keberadaan gunung berapi meningkatkan kepadatan penduduk pada tanah vulkanik yang subur (di Jawa populasi meningkat dari 5 sampai 50 juta dalam satu abad!).

Pencegahan bencana gunung berapi, karena itu, adalah salah satu tugas yang paling penting dari Survei Vulkanologi.

Pada gunung berapi paling berbahaya di Jawa, pos pengamatan permanen (dengan menempatkan pengamat Vulcanologi Indonesia) yang diorganisasi (pada gunung Tangkuban Prahu, Papandayan, Merapi, Kelut, Ijen). Selain rumah-rumah kecil yang terbuat dari kayu untuk petugas, dibuat pos-pos terbuat dari beton dan terowongan perlindungan yang rapat dengan tabung oksigen, dan pasokan makanan kaleng. Selain itu, mereka diberikan dengan alat, pakaian asbes, helm baja, masker gas, termometer, dll, dan mereka dihubungkan dengan kabel telepon bawah tanah dengan dunia luar. Juga instuments geofisika, seperti seismograf dan alat ukur kemiringan (tiltmeter) telah dipasang dalam terowongan beton.

Gas-gas beracun (terutama yang berbahaya adalah CO2) membuat mereka perlu untuk melakukan patroli rutin pada gunung berapi yang sering dikunjungi oleh wisatawan (Tangkuban Prahu, Papandayan). Ini "Stik Valleien" atau lembah menyesakkan, disebabkan oleh mofet. Banyak korban jiwa telah terjadi di dalamnya. Pengamat gunung berapi Indonesia, Roeslan namanya sedang terkena gas mofet di gunung Papandayan dalam pelaksanaan tugas ini.

Selanjutnya, dalam Survei Vulkanologi disusun peta dari area berbahaya pada gunung berapi yang paling penting (dalam kaitannya dengan bahaya lahar dan awan panas), menunjukkan juga rute yang aman untuk elevasi dari penduduk setempat. Selain itu, untuk beberapa gunung berapi petunjuk rinci untuk orang-orang Indonesia dari tulisan gunung observasi serta Dinas Sipil yang dipilih untuk gunung (Merapi, Kelut, Semeru, Ijen).

Sabtu, 25 Juni 2011

MENGUNTIT MAHASISWA UB STUDI LAPANGAN

Ahad, 12 Juni 2011 lalu, "nuansa masel" dapat kesempatan mengikuti studi lapangan mahasiswa Jurusan Fisika FMIMA, Universitas Brawijaya (UB) Malang ke daerah yang bertopografi karst di Malang selatan, tepatnya di Kecamatan Sumbermanjing. Kuliah tentang Geologi dan Geomorfologi ini dipimpin langsung oleh Ketua Jurusan Fisika FMIPA, UB Malang, Adi Susilo, Ph.D. Gejala Geologi/Geomorfologi yang pertama dikaji adalah patahan di daerah karst tersebut. Dalam kajian itu, Adi Susilo yang asli Malang selatan ini mengemukakan proses terbentuknya daerah patahan itu. Kemudian beliau memerintahkan kepada mahasiswa untuk menentukan ketinggian tempat dengan menggunakan GPS. Di samping itu para mahasiswa diminta untuk menentukan kemiringan lereng, lokasi absolut, tekanan udara, dan suhu udaranya.

Kegiatan berikutnya, para mahasiswa diajak terjun ke sebuah sungai karst yang nyaris tak berair lagi. Sungai itu berada di Desa Sumberagung Kecamatan Sumbermanjing. Untuk menuju lembah yang termasuk sungai musiman ini, para mahasiswa harus menuruni lereng curam sedalam 5m. Dasar sungai pada Daerah Aliran Sungai (DAS) hulu ini dipenuhi oleh fragmen-fragmen batuan. Di tempat ini para mahasiswa diminta mengidentifikasi jenis-jenis batuan yang ada. Setelah mahasiswa mengidentifikasi, Adi Susilo menjelaskan bahwa batuan-batuan yang ada di dasar sungai itu adalah batuan sedimen. Batuan sedimen yang dimaksud adalah batuan gamping. Terbentuknya batuan gamping tidak terlepas dari peranan organisme. Organisme yang dimaksud adalah organisme laut, yakni tumbuhan dan binatang karang. Sisa-sisa organisme laut tersebut kemudian terakumulasi dan terendapkan. Setelah memberikan penjelasan tersebut, kemudian para mahasiswa diminta mengidentifikasi sisa-sisa organisme laut tersebut yang telah memfosil dan menyatu dengan batukapur (limestone). Selain batukapur, mahasiswa juga diminta mengidentifikasi batuan sedimen lain yang ada di tempat itu. Tak lupa, para mahasiswa tersebut juga melakukan pengukuran-pengukuran seperti sebelumnya.

Lokasi ketiga yang dituju adalah tempat keberadaan lapisan batubara di desa yang sama. Ketua Jurusan Fisika yang ahli Geofisika tersebut menceritakan asal-usul terbentuknya lapisan tersebut dan bahwa hal-hal yang berkaitan dengannya. Formasi batubara tersebut berlapis-lapis tipis. Menurut penuturan beliau lapisan batubara ini memanjang hingga Tulungagung.

Singkapan pada tebing kaolin merupakan tinjauan keempat. Kaolin tersebut berlokasi di Desa Kedungbanteng Kecamatan Sumbermanjing. Sedangkan lokasi terakhir yang dituju adalah daerah yang dicurigai terdapat mineral emas, selain juga zeolit, dan mineral-mineral lain. Daerah yang dituju tersebut termasuk Desa Sidomulyo Kecamatan Sumbermanjing.

Jumat, 24 Juni 2011

BUKIT SISA DI AREAL PERTAMBANGAN

Paling tidak ada tiga tempat yang pernah "nuansa masel" saksikan berkaitan dengan fenomena pada gambar di samping. Fenomena bukit sisa di areal pertambangan. Ketiga-tiganya berada pada daerah karst. Dua fenomena di bekas penambangan batukapur di Kecamatan Pagak dan di Kecamatan Kalipare. Sedang yang ketiga, seperti yang tertera pada gambar di samping, ditemukan di lokasi penambangan piropilit yang saat ini masih aktif dieksploitasi di Kecamatan Sumbermanjing. Ketiga-tiganya berbentuk tegakan kokoh seperti ibujari yang terangkat ke atas dengan puncaknya ditumbuhi oleh vegetasi.

"nuansa masel" hanya menduga bahwa bukit sisa itu terjadi karena batuan penyusun yang kemudian membentuk bukit sisa itu memiliki tingkat kekerasan yang tinggi. Para pekerja tambang itu meninggalkan begitu saja bukit sisa itu karena peralatan baja yang mereka gunakan tak mampu mengoyak dan menghancurkan bukit itu. Bahkan menurut penuturan, untuk bukit sisa yang ada di Kecamatan Pagak itu tetap kokoh walau di sekitarnya dihancurkan dengan menggunakan dinamit. Lantas berapa tingkat kekerasan batuan tersebut menurut skala Moh? Mineral apa yang menyusun batuan tersebut?

Seperti kita ketahui bersama bahwa untuk menyatakan tingkat kekerasan mineral, para ahli sering menggunakan skala Moh yang dinyatakan dengan angka 1 sampai 10. Satu contoh, skala 1 untuk mineral talk, skala 2 untuk gipsum, skala 3 untuk kalsit, skala 4 untuk fluorit, skala 5 untuk apatit, skala 6 untuk ortoklas, skala 7 untuk kuarsa, skala 8 untuk topas, skala 9 untuk korundum, dan skala 10 untuk intan (Understanding Earth dalam Adi Susilo, 2010). Ambil saja berikutnya mineral kuarsa. Mineral kuarsa ini baru bisa dibelah bila menggunakan kikir baja. Lantas apa bukit sisa itu banyak mengandung kuarsa? Bisa saja, karena dalam penambangan piropilit di sekitarnya yang piropilit sendiri juga mengandung kuarsa. Piropilit dan kuarsa sama-sama masuk grup mineral silikat. Namun demikian tidak tertutup kemungkinan bukit sisa tersebut mengandung korundum, mengingat terdapatnya korundum bisa juga terjadi dalam proses metamorfosa di daerah batugamping. Terlebih piropilit ini memiliki kemiripan warna dengan korundum. Warna korundum adalah abu-abu, biru, merah muda, merah, kuning, hijau, violet (merah lembayung), atau hitam. Bahkan dalam situsnya, http://skywalker.cochise.edu/wellerr/mineral/corundum/nineral-prop.htm, Roger Weller juga memerikan contoh gambar korundum yang berwarna coklat, di samping merah muda. Jadi kekerasan mineral yang ada pada bukit sisa itu dalam skala 9? Lantas pertanyaan berikutnya, mengapa kalau itu diduga korundum tidak sekalian diambil? Apa mereka tidak tahu? Atau apa karena tidak ekonomis? Itulah sederet pertanyaan yang mungkin bisa bertambah banyak lagi pertanyaan yang bisa diajukan. Yang praktis mestinya ambil sebagian dari bukit sisa itu kemudian diuji di dalam laboratorium secara fisik dan kimia dengan teliti. Hasilnya pasti diketahui, mineral apa yang terkandung dalam bukit sisa itu dan diperoleh kesimpulan sebab-musababnya mineral itu ditinggalkan begitu saja sebagai bukit sisa.

Sumber bacaan:
- Setia Graha, Doddy. 1987. Batuan dan Mineral. Bandung: Nova.
- Susilo, Adi. 2010. Presentasi Mineral dan Batuan pada ToT Kebumian. Malang: Tidak Diterbitkan
- Weller, Roger. 2010. (http://skywalker.cochise.edu).

Kamis, 23 Juni 2011

PENAMBANGAN PIROPILIT

"nuansa masel" bersama MGMP Geografi SMA Kabupaten Malang yang bekerjasama dengan Program Studi Geofisika Jurusan Fisika FMIPA Universitas Brawijaya (UB) Malang melaksanakan MGMP Lapangan berkaitan dengan Lithosfer seisinya (sumberdaya mineral dan bahan galian) di Kecamatan Sumbermanjing Kabupaten Malang. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Selasa, 21 Juni 2011. Oleh Ketua Jurusan Fisika, Drs. Adi Susilo, M.Si, Ph.D. dan Ketua Program Studi Geofisika, Dr. Sunaryo, S.Si., M.Si., kami dibawa berkunjung ke lokasi penambangan piropilit. Penambangan piropilit tersebut berada di sebuah perbukitan yang secara global termasuk satu rangkaian dari pegunungan kapur di selatan Jawa. Pegunungan Kidul namanya. Titik penambangan tersebut yang berupa perbukitan tersebut berada di tepi barat Desa Argotirto yang berketinggian 462m di atas permukaan laut dengan luas puluhan hektar. Walaupun demikian, lokasi penambangan itu dari kejauhan hanya nampak sebagai singkapan kecil di atas puncak rangkaian perbukitan.

Untuk menuju lokasi tersebut, kami harus melalui jalan tanah sedikit berbatu dan bergelombang yang menanjak serta menurun curam dengan kelokan-kelokan tajam. Di sebelah jalan terdapat sungai yang berlembah terjal. Sungguh jalan penuh tantangan yang beresiko. Tantangan itu semakin bertambah ketika dalam menempu perjalanan tersebut berpapasan dengan puluhan truk pengangkut bijih piropilit. Kita harus pandai menempatkan kendaraan ketika berpapasan dengan truk bermuatan berat tersebut. Agar tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan, kita wajib membunyikan klakson pada titik rawan. Utamanya di sekitar tikungan. Kita harus mengalah dan menghentikan kendaraan pada posisi yang tepat agar truk-truk bermuatan berat tersebut dapat melaju dengan bebas. Sesampainya di lokasi penambangan, kita juga harus pandai menempatkan kendaraan di titik aman.

Piropilit--Al2Si4O10(OH)2 merupakan mineral grup silikat. Biasanya mineral ini ditemukan dalam formasi andesit tua (http://www.tekmira.esdm.go.id). Namun ternyata untuk piropilit yang satu ini ditemukan di daerah yang berformasi gamping. Aneka warna piropilit ditemukan di tempat ini. Piropilit di lokasi penambangan tersebut berwarna putih, kuning pucat, dan coklat kemerahan. Bahkan ditemukan pula warna coklat keputihan. Menurut Ketua Program Studi (Prodi) Geofisika, Sunaryo bahwa piropilit yang baik adalah piropilit yang berwarna putih keabu-abuan dengan kilap mutiara di permukaan belahannya. Di samping piropilit sebagai dominasi utamanya, di antara pecahan-pecahan mineral yang ada di lokasi penambangan tersebut, ditemukan pula pecahan semacam kalkopirit berkadar rendah.

Lahan penambangan dengan luas puluhan hektar tersebut cukup ditangani oleh seorang operator alat berat yang bertugas membongkar dan menghancurkan perbukitan kaya mineral ekonomis tersebut. Dengan alat berat itu pula, mineral ekonomis tersebut dinaikkan di atas truk yang kemudian diangkut menuju gudang di Turen sebelum dikirim keluar daerah. (Isi selengkapnya tentang pirolusit ini dapat dilihat pada posting sebelumnya dengan judul "Piropilit--Al2Si4O10(OH)2").

Rabu, 22 Juni 2011

PATAHAN NDRUJU

Menurut Adi Susilo, Ph.D, seorang ahli Geofisika lulusan S3 sebuah perguruan tinggi Australia yang juga Ketua Jurusan Fisika Universitas Brawijaya (UB) Malang pada acara MGMP Lapangan, MGMP Geografi SMA Kabupaten Malang, bahwa gambar yang tertera pada posting ini adalah sebuah patahan pada formasi karst. Formasi karst yang dimaksud adalah susunan batuan sedimen dengan dominasi berupa batuan kapur yang terletak di Malang Selatan. Batuan kapur itu sendiri merupakan bagian dari rangkaian pegunungan kapur yang ada di selatan pulau Jawa yang sering disebut dengan pegunungan Kidul. Adi Susilo menambahkan bahwa bukit yang ada tersebut merupakan puncak patahan (horst), sedang dataran di latar depan foto yang merupakan letak keberadaan Desa nDruju Kecamatan Sumbermanjing Kabupaten Malang adalah bagian dari lembah patahan (slenk/graben). Desa nDruju sendiri berada pada ketinggian 409m di atas permukaan laut. Patahan ini membentang dari Desa nDruju ke selatan sampai batas pesisir selatan pada Kecamatan yang sama, Kecamatan Sumbermanjing. Karena hal itu, untuk memudahkan dalam mengingat kemudian "nuansa masel" menyebutnya dengan 'Patahan nDruju'. Kemudian Adi Susilo menegaskan bahwa mengingat daerah tersebut tersusun dari batuan kapur, yang kapur itu sendiri terbentuk dari binatang dan tumbuhan karang yang ada di laut, maka daerah ini dahulunya berupa laut. Sisa-sisa organisme laut itu kemudian terakumulasi dalam jumlah besar yang kemudian terjadilah peristiwa geologi yang berupa pengangkatan. Peristiwa pengangkatan itu sendiri merupakan bentuk adanya gerak epirogenetik. Gerak epirogenetik yang dimaksud adalah gerak epirogenetik negatif, yakni naiknya daratan yang kemudian seolah-olah permukaan air laut mengalami penurunan.

Menanggapi pertanyaan dari seorang rekan tentang waktu terbentuk batuan kapur, Adi Susilo mengingatkan bahwa terbentuknya pada lebih kurang 90 juta tahun yang lalu. "nuansa masel" menambahkan bahwa pegunungan kapur yang ada itu terbentuk pada Zaman Kapur, Era Mesozoikum. Sedang terjadinya patahan tersebut lantaran batuan kapur cenderung bersifat nonplastis.

Sekedar diketahui, batuan kapur yang ada di Desa nDruju Kecamatan Sumbermanjing ini dikenal masyarakat sebagai penghasil batukapur olahan yang terbaik di Wilayah Malang Raya. Batukapur olahan dikerjakan melalui proses pembakaran. Biasanya batukapur olahan ini dipergunakan untuk campuran perekat pada bangunan, pewarna dinding, dan beberapa keperluan lain.

Senin, 20 Juni 2011

BREKSI PADA SUNGAI KARST

Breksi adalah batuan sedimen yang tersusun dari fragmen-fragmen (pecahan-pecahan) batuan yang ujungnya (bersudut) runcing dan telah tersementasi (terekat) oleh material-material batuan yang lebih halus (biasanya mengandung kalsium karbonat dan silikat).

Breksi, juga konglomerat termasuk dalam kelompok batuan sedimen klastik. Kalau konglomerat banyak ditemukan di daerah perairan, terutama di sekitar sungai, namun breksi tidak selalu demikian. Breksi memiliki beberapa tipe, antara lain fault breccias, volcanic breccias, agglomerate, bone breccias, dan cemented scree atau talus deposit (M.A. Marbun, 1982:27). Dilihat dari perantara atau mediumnya, batuan sedimen dapat dibagi menjadi tiga golongan, yaitu: 1. Batuan sedimen aeris ata aeolis. 2. Batuan sedimen glasial. 3. Batuan sedimen akuatis (aqua = air)

Breksi yang tertera dalam gambar di atas termasuk batuan sedimen akuatis, tepatnya ditemukan pada sebuah sungai karst (sungai di daerah kapur) yang menurut intensitas airnya termasuk sungai musiman (ada ahli yang mengatakan sungai intermitten). Pastinya sungai tersebut kering ketika tidak terisi oleh air hujan, seperti ketika breksi ini ditemukan. Sedangkan tipe breksi tersebut adalah cemented scree, artinya pecahan-pecahan batukapur yang bersudut lancip itu terbungkus dan terekatkan oleh material-material sedimen kapur yang lebih halus, sehingga terbentuk bongkahan batu yang baru. Batu yang terbentuk kemudian itulah yang disebut breksi. Breksi tersebut terdapat di sebuah sungai kecil Desa Sumberagung Kecamatan Sumbermanjing, Kabupaten Malang bercampur dengan batuan-batuan sedimen lainnya.