Selasa, 16 Februari 2010

PELAPUKAN FISIS

Fenomena yang terpampang pada gambar ini adalah bagian dari proses hancurnya/lapuknya batuan beku pada sebuah tebing yang berkemiringan hampir 90 derajat di kaki gunung Semeru, di perbatasan Kabupaten Lumajang dengan Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Pelapukan (bhs. Inggris: weathering, bhs. Belanda: verwering) adalah peristiwa penghancuran massa batuan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil oleh faktor-faktor iklim, zat-zat kimia, dan/atau makhluk hidup. Bagian-bagian yang lebih kecil itu berupa bongkah-bongkah batu (fragment), kerikil, pasir, tanah, bahkan debu. Berdasarkan tenaga yang menghancurkannya (faktor-faktor yang mempengaruhinya), pelapukan dibedakan menjadi tiga macam. Tiga macam pelapukan tersebut adalah: pelapukan fisis, pelapukan kimia, dan pelapukan biologis. Paparan tentang pelapukan ini akan disajikan menjadi tiga posting-an. Posting-an pertama yang disajikan adalah pelapukan fisis.

Pelapukan fisis atau pelapukan fisik sering pula disebut dengan pelapukan mekanik. Pelapukan fisis adalah proses penghancuran batuan yang terjadi akibat adanya pengaruh faktor cuaca/iklim. Faktor cuaca/iklim yang berperan penting dalam pelapukan ini adalah perubahan suhu harian antara siang dan malam, embun pagi (frost), hujan dan perubahan musim. Perubahan musim terutama nampak di wilayah yang memiliki empat musim, yakni ketika terjadi pembekuan air di antara batuan di musim dingin/salju dan pada daerah-daerah pegunungan tinggi yang selalu tertutup salju.

Pelapukan fisis di Indonesia umumnya dipengaruhi oleh intensitas penyinaran Matahari yang tinggi dan hanya sebagian kecil wilayah Indonesia yang batuannya mengalami pelapukan akibat pengaruh salju/es, yaitu di puncak-puncak pegunungan Jayawijaya (berketinggian lebih dari 4.000m di atas permukaan laut), Papua. Proses pelapukan ini berlangsung dalam waktu sangat lama. Seperti dikemukakan di atas, bahwa pelapukan ini hasil akhirnya adalah tanah dan debu. Tanah yang dihasilkan akan dipengaruhi oleh batuan asal yang terlapukkan. Jika batuan yang terlapukan itu dari batuan beku dari gunung berapi, maka tanah yang dihasilkannya pun akan bersifat tanah vulkanik. Jenis tanah yang dihasilkan akan berpengaruh terhadap kehidupan, terutama dalam pertanian.

1 komentar: